Dukungan terhadap Palestina bukan hanya tentang politik luar negeri, tetapi juga cerminan identitas Indonesia sebagai bangsa yang sejak awal berdiri menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.
Keempat, investasi. Data yang dikutip dari BKPM menunjukkan realisasi investasi sekitar Rp2.430 triliun dalam periode sekitar satu setengah tahun.
Selain itu, setelah kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan, diperoleh komitmen investasi sekitar Rp575 triliun. Investasi tentu tidak lahir hanya dari satu kunjungan presiden. Namun diplomasi tingkat tinggi sering menjadi pintu pembuka kepercayaan investor.
Modal akan datang ke negara yang dianggap stabil, memiliki akses pasar luas, dan dipimpin oleh pemerintahan yang aktif membangun hubungan internasional.
CSIS, “Six Months of Prabowo: Indonesia’s Diplomatic Charm Offensive” (Mei 2025): menilai Indonesia di bawah Prabowo telah menjadi “one of the most active players in Southeast Asia” dengan posisi tawar yang menguat melalui keanggotaan BRICS, kemitraan Cina–Rusia–Timur Tengah, dan jejaring strategis yang meluas.
Dua buku membantu kita memahami mengapa diplomasi semacam ini penting.
Buku pertama, The Tragedy of Great Power Politics. Penulisnya John J. Mearsheimer, W.W. Norton & Company, 2001
Mearsheimer menjelaskan bahwa dunia internasional tidak memiliki otoritas tertinggi yang mampu menjamin keamanan setiap negara.
Oleh karena itu, setiap bangsa harus terus memperkuat posisi dan memperluas jaringan pengaruhnya. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pelajaran terpenting dari buku ini adalah bahwa kemandirian tidak pernah lahir dari isolasi.
Kemandirian justru lahir ketika sebuah negara memiliki cukup banyak pilihan sehingga tidak mudah ditekan oleh kekuatan mana pun. Dalam dunia yang semakin kompetitif, hubungan internasional yang luas menjadi bagian dari pertahanan nasional.
Mearsheimer sendiri menyimpulkan ke arah dominasi, bukan kerja sama. Namun premis anarki internasionalnya tetap berlaku: dalam dunia tanpa wasit, kemandirian harus dibangun sendiri: entah lewat kekuatan, entah lewat jaringan.
Buku kedua, berjudul Paradoks Indonesia dan Solusinya. Penulisnya Prabowo Subianto sendiri, 2022
Buku ini berangkat dari satu pertanyaan besar: mengapa Indonesia yang kaya sumber daya belum sepenuhnya menjadi negara maju?
Prabowo berargumen bahwa Indonesia harus memperkuat kedaulatan pangan, energi, industri, dan pertahanan.
Namun tujuan itu tidak berarti menutup diri dari dunia. Justru Indonesia perlu membangun kemitraan global yang mendukung kepentingan nasionalnya.