Oleh karena itu, saya tidak pernah melihat kunjungan luar negeri semata sebagai perjalanan fisik.
Ia adalah investasi kepercayaan yang hasilnya kadang baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Saya juga teringat berbagai krisis yang pernah dialami Indonesia. Saat krisis ekonomi, pandemi, hingga ketegangan geopolitik global, negara yang memiliki jaringan internasional lebih luas selalu memiliki lebih banyak pilihan.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, banyaknya pilihan adalah bentuk tertinggi dari kedaulatan.
Apa hasil yang sejauh ini dapat dicatat dari kunjungan Prabowo keluar negeri. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui kanal YouTube Sekretariat Kabinet, menjelaskan tujuh hasil diplomasi. Dan saya perkaya dengan sumber lain.
Saya eksplor empat saja dari tujuh itu.
Pertama, keanggotaan Indonesia dalam BRICS. Masuknya Indonesia ke BRICS memperluas ruang kerja sama dengan negara-negara yang mewakili sebagian besar populasi dunia dan porsi signifikan ekonomi global.
Di tengah fragmentasi geopolitik, keanggotaan ini memperkuat posisi tawar Indonesia dalam isu energi, pangan, perdagangan, dan keuangan internasional.
Nilai strategisnya bukan sekadar simbol keanggotaan, melainkan bertambahnya opsi yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi dunia multipolar.
Kedua, penyelesaian akses pasar Uni Eropa melalui kemajuan besar dalam perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement.
Setelah lebih dari satu dekade negosiasi yang berliku, tercapai terobosan menuju skema tarif yang jauh lebih kompetitif bagi produk Indonesia.
Bagi negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, akses ke pasar Eropa berarti peluang ekspor yang lebih besar, lapangan kerja yang lebih luas, dan kesempatan mempercepat transformasi industri nasional.
Diplomasi ekonomi pada akhirnya harus diukur dari kesejahteraan rakyat yang tercipta.
Ketiga, dukungan bagi Palestina. Menurut penjelasan yang sama, Indonesia aktif mengirim bantuan kemanusiaan, mendukung layanan medis, serta menyediakan kesempatan pendidikan bagi sekitar 100 pelajar Palestina.
Dalam dunia yang sering kali mengukur kekuatan dari senjata dan ekonomi, diplomasi Indonesia berusaha mempertahankan dimensi moralnya.