Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Februari 2022, ketika perang Rusia dan Ukraina pecah, seorang ibu di pasar tradisional Jakarta Timur tertegun melihat harga minyak goreng, tepung, dan kebutuhan pokok melonjak dalam hitungan minggu.
Ia tidak pernah mengunjungi Kyiv ataupun Moskow. Namun keputusan para pemimpin dunia yang berjarak ribuan kilometer itu tiba-tiba hadir di dapurnya.
Saat itulah kita memahami satu kenyataan yang sering terlupakan: di abad ke-21, nasib rakyat kecil tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dalam negeri, tetapi juga oleh kualitas hubungan kepala negara dengan dunia luar.
Baca Juga: Legenda Barcelona Andres Iniesta Melatih Klub Uni Emirat Arab Gulf United
Di sinilah pro dan kontra mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo muncul. Dalam sekitar 18 bulan pertama pemerintahannya, Presiden tercatat melangsungkan 51 perjalanan ke luar negeri.
Sebagian publik memuji langkah itu sebagai diplomasi aktif di tengah dunia yang semakin tidak pasti. Sebagian lainnya mempertanyakan efektivitasnya dan menganggap frekuensi tersebut berlebihan.
Perdebatan itu sehat dalam demokrasi. Namun pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa kali seorang presiden bepergian, melainkan apa tujuan strategis yang ingin dicapai, manfaat konkret yang dihasilkan, dan posisi apa yang sedang dibangun Indonesia dalam percaturan dunia yang sedang berubah sangat cepat.
Menurut saya, seluruh rangkaian kunjungan itu lebih tepat dibaca dalam satu payung besar: diplomasi kemandirian.
Baca Juga: Federasi Sepak Bola Internasional FIFA Memberi Apresiasi Kepada Persib Bandung
Diplomasi kemandirian adalah strategi menjaga kepentingan nasional dengan membangun hubungan seluas mungkin tanpa bergantung pada satu blok kekuatan dunia.
Dalam tradisi Indonesia, inilah evolusi modern dari prinsip bebas aktif yang diwariskan Mohammad Hatta. Tujuannya bukan memilih Amerika Serikat atau China, Barat atau Timur, melainkan memastikan Indonesia tetap memiliki ruang menentukan nasibnya sendiri.
Mengapa diplomasi kemandirian ini penting, dan mengapa ekspose internasional bagi Prabowo adalah jalan menuju itu?
Alasan pertama, dunia kini memasuki era fragmentasi geopolitik. Perang Ukraina, konflik Timur Tengah, rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, serta ketidakpastian ekonomi global membuat ketergantungan pada satu pihak menjadi berisiko.