Intoleransi bisa bersembunyi di balik klaim membela NKRI, membela Pancasila, membela minoritas, atau membela toleransi.
Dengan demikian, Abu Janda sebenarnya tidak cukup hanya melawan kelompok intoleran di luar dirinya. Ia juga harus melawan “Permadi Arya” di dalam dirinya sendiri sebagai bagian dari dirinya yang mudah sinis, mudah mengejek, mudah menggeneralisasi, dan mudah merasa paling bermoral dibanding pihak lain.
Orang yang benar-benar toleran tidak cukup hanya membenci intoleransi. Ia juga harus punya kemampuan menahan diri agar tidak berubah menjadi sosok intoleran dalam bentuk baru.
Toleransi bukan sekadar posisi politik. Toleransi adalah akhlak. Ia tampak dari cara bicara, cara menegur, cara berbeda pendapat, dan cara memperlakukan orang yang tidak sepaham.
Kalau seseorang mengaku membela toleransi, tetapi bahasanya kasar, ekspresinya merendahkan, dan narasinya melukai identitas banyak orang, maka ia sedang meruntuhkan sendiri pesan yang ia bawa.
Abu Janda harus tahu, intoleransi itu tidak lahir hanya karena satu kelompok masyarakat bersikap keras. Ia juga tumbuh karena bisa menjadi negara lemah, kementerian terkait tidak berjalan, aparat hukum lamban dan lain-lain.
Jika ada rumah ibadah ditolak, pertanyaannya bukan hanya: siapa massa yang menolak? Tetapi juga: di mana pemerintah daerah? Di mana aparat keamanan? Di mana Kementerian Agama? Di mana tokoh lintas iman? Di mana regulasi yang melindungi hak warga? dan seterusnya.
Oleh karena itu, melawan intoleransi secara serius berarti berani mengkritik semua pihak yang berkontribusi terhadap masalah. Tidak boleh hanya memaki rakyat. Tidak boleh hanya menyalahkan satu daerah. Tidak boleh hanya menghakimi satu kelompok agama. Aparat negara juga harus dimintai tanggung jawab.
Terakhir, pesan kita buat Abu Janda, kalau kita melawan kebencian, jangan menjadi pembenci. Kalau kita melawan intoleransi, jangan menjadi intoleran. Kalau kita melawan provokasi, jangan menjadi provokator. Kalau kita membela kebinekaan, jangan merendahkan suku, daerah, agama, atau kelompok mana pun.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi.