Begitu pun Abu Janda yang ingin tampil sebagai pembela keberagaman, tetapi Permadi Arya justru sering menggeneralisasi, menyindir, dan melukai perasaan kolektif kelompok tertentu.
Baca Juga: Musisi Legendaris Iwan Fals Tampil di Timor Leste, Diterima Perdana Menteri Xanana Gusmao
Bagaimana mungkin seseorang ingin memadamkan api intoleransi, tetapi di tangannya sendiri ia membawa obor provokasi?
Kasus terbaru tentang pernyataannya yang menyinggung masyarakat Sumatra Barat dan Jawa Barat sebagai daerah yang dianggap “barbar” menjadi contoh nyata.
Atas dasar pernyataan pria kelahiran 14 Januari 1973 ini, DPP Ikatan Keluarga Minang melaporkan dia ke Bareskrim dengan dugaan penghinaan terhadap masyarakat Sumatra Barat.
Dalam laporan itu, pihak IKM menyoroti penggunaan istilah “suku barbar” yang melukai hati masyarakat Minangkabau.
Abu Janda sendiri membantah telah menghina masyarakat Sumatra Barat, tetapi fakta bahwa ucapannya memicu laporan dan kemarahan publik menunjukkan bahwa gaya komunikasinya memang problematik.
Menyebut wilayah atau masyarakat tertentu dengan istilah “barbar” jelas bukan pilihan kata yang bijak.
Apalagi ketika yang disebut adalah Jawa Barat dan Sumatra Barat, dua wilayah besar dengan akar sejarah, budaya, agama, dan kehormatan sosial yang sangat kuat.
Kata seperti itu bukan hanya kasar, tetapi juga menyamaratakan. Ia menimpakan label buruk kepada jutaan manusia yang tidak semuanya terlibat dalam tindakan intoleransi.
Abu Janda ingin melawan intoleransi, tetapi justru jatuh pada perangkap intoleransi yang sama. Yaitu, menghakimi secara kolektif, memakai stereotip, dan memancing kemarahan identitas.
Akibatnya, bukan penyelesaian yang muncul, tetapi justru reaksi balik. Di media sosial, mulai bermunculan orang yang menantang, mengecam, bahkan mengajak berhadapan secara fisik. Ini tentu juga tidak benar dan harus ditolak.
Sekali lagi, Itulah bukti bahwa cara melawan intoleransi yang ia pilih tidak efektif. Bahkan kontraproduktif. Dia lupa, bahwa yang yang dia lawan bukan hanya kelompok intoleran, tetapi juga diri sendiri.
Setiap orang yang ingin melawan intoleransi seharusnya lebih dulu memeriksa dirinya, apakah dalam dirinya masih ada kebencian, kesombongan moral, prasangka, atau kegemaran merendahkan pihak lain?
Sebab, intoleransi tidak selalu datang dalam bentuk jubah agama atau teriakan massa. Intoleransi juga bisa datang dalam bentuk kalimat sinis, wajah mengejek, suara menantang, dan diksi yang merendahkan.