Pemerintah menjelaskan, TNI tidak menggantikan petani. Katanya membantu membuka lahan tidur, membangun irigasi, menyediakan bibit unggul, dan memperkuat produksi pangan. Secara resmi memang terdengar heroik. Tetapi otak rakyat Indonesia terlalu liar untuk tetap serius.
Kita langsung membayangkan seorang kolonel loreng berdiri di tengah sawah sambil meniup peluit.
“Kompi Padi! Siap tanam!”
“Siap!”
“Gerakan tanam cepat! Yang padinya miring push-up dua puluh kali!”
Petani kampung yang biasanya santai sambil ngopi mendadak hidup dalam nuansa barak militer. Burung pipit dianggap mata-mata asing. Wereng naik status jadi ancaman pertahanan negara.
Lucunya lagi, Indonesia ternyata tidak sendirian.
Nigeria punya Nigerian Army Farms. Mesir lebih ganas lagi, militernya mengelola ribuan hektare kebun dan peternakan sampai menopang sebagian besar pangan nasional.
Cina punya sejarah Tuntian sejak ratusan tahun lalu, tentara sambil bertani demi logistik negara. Korea Utara rutin mengerahkan pasukan untuk menanam dan memanen karena ancaman kelaparan kronis.
Artinya dunia memang mulai berubah. Tentara modern bukan cuma bisa perang. Mereka juga bisa panen.
Di Hari Kebangkitan Nasional ini, Indonesia seperti sedang mendeklarasikan babak baru kebangkitan bangsa, kebangkitan jagung, kebangkitan kedelai, kebangkitan padi nasional ala loreng.
Entah beberapa tahun lagi apa yang terjadi. Bisa saja upacara militer digelar di tengah sawah. Kapal perang berlayar sambil membawa bibit unggul. Marinir patroli sambil cek irigasi. Bahkan bukan mustahil mars TNI suatu hari diremix dengan suara mesin traktor.
Inilah Indonesia. Negeri yang membuat dunia geleng-geleng kepala sambil tertawa bingung.
Karena di republik ini, Hari Kebangkitan Nasional bukan cuma tentang bangkit melawan musuh, tetapi juga bangkit sebelum subuh… demi panen jagung.***
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat