Ratu Adil: Antara Ilusi, Frustasi, dan Harapan Tersembunyi

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 1 Agustus 2026 | 05:00 WIB
Toto Izul Fatah
Toto Izul Fatah

Baca Juga: Satu Meninggal Dalam Kebakaran di Pulogadung Jakarta Timur

Merujuk pada tradisi Jawa, gagasan tentang ratu adil itu berkelindan dengan teks-teks profetik yang dikaitkan dengan ramalan Jayabaya dan dikembangkan lagi dalam tradisi sastra-politik berikutnya.

Di situ, nubuat bukan hanya dipakai untuk meramal masa depan, tetapi juga untuk mengkritik kekacauan sosial-politik masa kini dan membayangkan tata pemerintahan yang lebih adil.

Begitu juga dalam tradisi Sunda, Ratu Adil bukan sekadar tentang mistik. Ia adalah bahasa budaya untuk menyebut kerinduan pada keadilan.

Ia lahir bukan di ruang hampa, tetapi di tengah pengalaman kolektif tentang rakyat yang tertindas, hukum yang pincang, harga hidup yang mahal, kekuasaan yang culas dan tidak mengayomi.

Dalam riset tentang mitos Ratu Adil ada kaitan dengan  Perang Jawa.

Figur ini bahkan tampil sebagai simpul harapan massa, pemikat penderitaan rakyat, katalisator kemarahan sosial, sekaligus penampung imajinasi tentang kehidupan yang lebih adil dan makmur.

Dalam konteks ini, Ratu Adil jelas mengandung harapan. Yaitu, harapan dari rasa frustasi. Harapan yang tumbuh dari luka, derita dan sakit hati. Karena itu, harapan tidak pernah lahir sendirian. Pasti ada hal dan faktor yang mengiringinya.

Dalam banyak teori psikologi, manusia yang hidup dalam ketidakpastian dan ancaman cenderung mencari pegangan yang tegas dan menjanjikan jawaban.

Riset psikologi politik menunjukkan bahwa kebutuhan untuk mengelola ketidakpastian, ancaman, dan rasa dunia yang berbahaya berkaitan dengan preferensi terhadap orientasi politik yang lebih menjanjikan kepastian.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, semakin cemas manusia terhadap situasi yang membingungkan, semakin besar dorongan untuk mencari sosok yang tampak kuat, tegas, dan mampu “membereskan" keadaan.

Di era modern, kondisi itu justru makin subur. Manusia hari ini hidup di tengah banjir informasi, tetapi miskin kepastian. Kita terhubung secara digital, tetapi tercerai secara sosial. Kita punya pemimpin di mana-mana, tetapi makin sulit menemukan figur yang dipercaya.

Dalam situasi seperti ini, narasi tentang penyelamat menjadi sangat menggoda. Maka, dari sudut pandang ilmiah, munculnya kerinduan pada Ratu Adil memang bisa dibaca sebagai efek frustasi sosial.

Padahal, dalam situasi krisis, yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat bukan hanya visi besar, melainkan kemampuan pemimpin untuk menenangkan kecemasan, memberi penjelasan yang masuk akal, memperkuat institusi, dan menjaga kohesi sosial.

Munculnya kembali istilah Ratu Adil itu harus dimaknai sebagai besarnya harapan rakyat terhadap keadaan yang lebih baik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X