WartaPesona.com - Penyakit virus Nipah mendadak menjadi kekhawatiran publik, apalagi ternyata penyakit zoonotik ini belum ada obatnya.
Munculnya kembali kasus penyakit virus Nipah di India sejak pertengahan September lalu membuat Indonesia meningkatkan kewaspadaan.
Meski belum ditemukan adanya kasus penyakit virus Nipah di Indonesia, kewaspadaan itu sangat penting. Hal ini mengingat penyakit tersebut bisa menular dari hewan ke manusia, dan dari makanan yang terkontaminasi.
Baca Juga: Banyak Ustadz Dai dari luar tak kuat tinggal lama di Mahakam Ulu Kalimantan Timur, sebabnya ini
Sementara itu, hingga kini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkan penyakit virus Nipah ini. Beberapa kasus hanya diberikan pengobatan terapi yang bersifat suportif.
Dilansir dari situs WHO, obat atau vaksin untuk infeksi virus Nipah belum ditemukan meski lembaga kesehatan dunia ini sudah mengidentifikasi Nipah sebagai penyakit prioritas dalam Cetak Biru Penelitian dan Pengembangan WHO.
Penyakit virus Nipah memang bukan penyakit baru. Penyakit ini mula pertama ditemukan di Malaysia pada tahun 1998-1999.
Baca Juga: Amalan sunnah di bulan Rabiul Awal paling dianjurkan, dari berpuasa, sedekah, dan membantu sesama
Wabah yang terjadi di sebuah sentra peternakan Babi di Sungai Nipah Malaysia saat itu juga berdampak ke Singapura, dan dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian (CFR: 38,41 persen).
Sementara itu di Indonesia, hingga kini belum pernah ditemukan kasus penyakit virus Nipah pada manusia.
Namun demikian melansir situs dinkesdiy, beberapa penelitian menemukan adanya virus Nipah pada kelelawar buah (genus Pteropus) di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit virus Nipah menjadi penting karena ada potensi terjadi.
Baca Juga: Atlet Wushu sumbang medali emas ketiga untuk Indonesia di Asian Games 2023 Hangzhou China
Lantas, seperti apa gejala infeksi virus Nipah? Ternyata, pada sebagian orang gejala awal terinfeksi virus ini tidak tampak.