Tips Ramadhan : 5 Tips Senyum dari Rasulullah SAW

photo author
Tim WartaPesona 4, Warta Pesona
- Jumat, 7 April 2023 | 11:12 WIB
Rasul mengajarkan senyum yang tulus, yang keluar dari hati. Bukan senyum kamuflase untuk menutupi maksud-maksud tertentu yang tersembunyi dalam hati./istockphoto.com
Rasul mengajarkan senyum yang tulus, yang keluar dari hati. Bukan senyum kamuflase untuk menutupi maksud-maksud tertentu yang tersembunyi dalam hati./istockphoto.com

Baca Juga: Kamu Harus Tau! Umrah di Bulan Ramadhan Seperti Melaksanakan Ibadah Haji

Rasul segera angkat bicara kepada Aisyah, “Aisyah, kamu telah mengatakan sesuatu perkataan yang kalua seandainya dicampur dengan air laut, maka air laut akan menjadi kotor.”

Ketiga, Dilarang menakut-nakuti orang lain.

Ada banyak cara untuk menciptakan senyuman. Namun tidak semua cara diperkenankan, termasuk dengan jalan menakut-nakuti atau membuat kaget orang lain.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Kami pernah berada dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah saw, Waktu itu ada salah seorang yang mengantuk dikendaraannya. Kemudian ada orang lain diantara kami yang mengambil busur/anak panah dari tempatnya, sehingga orang mengantuk itu bangun dan terkejut. Rasulullah pun bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk menakut-nakuti sesorang muslim,” (HR. Thobroni).

Baca Juga: Melihat Lebih Dekat Kehidupan Santri di Pondok Pesantren Selama Bulan Ramadhan

Keempat, Tahu tempat dan waktunya

Bercanda juga harus ada etikanya. Saat sedang melayat, tentu bukan tempat yang tepat untuk bercanda. Bercanda di majlis ta’lim juga tidak etis.

Namun, saat santai bersama teman-teman tidak menjadi masalah. Pintar-pintarlah kita memilih waktu dan tempatnya.

Orang yang bercanda di sembarang tempat, jelas bukan orang yang dewasa.

Kelima, Bercanda dalam batas yang wajar

Baca Juga: Ramadhan di Premier League : Wasit Beri Jeda Waktu untuk Berbuka Puasa Bagi Pemain Muslim Saat Magrib Tiba

Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Campurilah perkataan itu dengan tawa, seperti kamu mencampur makanan dengan garam.”

Apa jadinya bila terlalu banyak garam. Tentu saja tidak enak karena asin. Begitu juga bila kurang garam.

Tentu juga rasanya tidak enak. Keduanya tidak enak untuk dimakan. Yang enak tentu yang pas ukurannya. Begitu juga dengan bercanda.

Agama kita tidak suka berlebihan dalam segala sesuatu, sekalipun dalam beribadah, apalagi dalam bergurau.

Marilah kita berbahagia dan tertawa dengan sepenuh hati. Wallohu ‘alam. *** (AC).

Penulis : Achmad Chusanudin

Sumber : Buku Keajaiban Senyuman (2013), Karya Saikhul Hadi, Penerbit Gava Media, Yogyakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X