WartaPesona.com - Agar senyum, canda, dan tawa kita selaras dengan yang dilakukan Rasulullah, kitab bisa mengikuti beberapa tips berikut.
Bukan berarti kita berpikir dulu kalua hendak tersenyum, tetapi sebagai pengetahuan supaya senyum dan canda kita tidak berlebihan.
Sedangkan yang namanya berlebihan itu kan tidak boleh dalam agama kita. Termasuk juga dalam senyum dan canda.
Pertama, Senyum dan tawa tidak boleh menjadi sarana kebohongan dan dusta.
Rasul mengajarkan senyum yang tulus, yang keluar dari hati.
Baca Juga: Hikmah Ramadhan: 7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah swt pada Hari Kiamat
Bukan senyum kamuflase untuk menutupi maksud-maksud atau kepentingan-kepentingan tertentu yang tersembunyi dalam hati.
Senyum itu ibarat pisau bermata dua. Positif dan negative. Baik dan buruk.
Oleh karena itu, Rasul sudah mewanti-wanti agar jangan sampai senyum pemberian Allah swt ini digunakan untuk alat hal-hal yang tidak baik.
Kedua, Dalam bercanda tidak boleh bernada penghinaan kepada seseorang atau meremehkan atau mengolok-olok, kecuali diizinkan dan diridhai oleh yang bersangkutan.
Rasulullah saw bersabda :
“cukuplah bagi seorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya (sesame muslim).” (HR.Muslim)
Bagaimana dengan canda yang menggunakan fisik sebagai sasarannya? Jelas tidak boleh, apabila yang bersangkutan tidak berkenan.
Berbeda manakala yang bersangkutan yang mengeksploitasi kekurangannya sebagai bahan untuk mengundang tawa.
Dalam dunia humor, humor terbaik adalah menertawakan dirinya sendiri, bukan orang lain.
Suatu ketika Aisyah dengan maksud bercanda mengata-ngatai pembantunya yang bertubuh pendek.
Artikel Terkait
Mengapa Teknologi Digital Penting Untuk Diterapkan dalam Bisnis?
Yuk Kenali Apa Itu Jumat Agung: Hari Penting Bagi Umat Kristiani!
Tips Bisnis : Belajar Sukses dari Ciputra: 7 Kunci Sukses Ala Ciputra
Hikmah Ramadhan: 7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah swt pada Hari Kiamat
Turut Berduka Cita: Prajurit Terbaik Gugur Dalam Kecelakaan Terjun Payung TNI AU