WartaPesona.com - Menurut Imam Al-Ghazali, secara spiritual manusia terbagi menjadi tiga lapisan. Semakin tinggi lapisannya, semakin besar bobot spiritualnya.
Tingkat pertama untuk umat awam, tingkat kedua untuk orang-orang istimewa (bertakwa) dan tingkat ketiga (tertinggi) untuk orang-orang khusus khusus (wali, nabi), seperti dikutip dari NU Online.
Dalam ibadah puasa, masih menurut imam Al-Ghazali, tingkatan awam adalah puasa orang yang hanya menahan lapar dan haus sampai matahari terbenam.
Sedangkan, level khusus adalah mereka yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melawan semua perbuatan asusila dari seluruh tubuh. Al-Ghazali menyebutkan bahwa ini adalah puasa orang soleh.
Baca Juga: 5 Tips Sehat Selama Puasa Ala Kemenkes, Ada Pola Dietnya Juga
Sementara puasa untuk tingkat ketiga yaitu Khususul-Khusus tidak hanya melindungi diri dari maksiat eksternal, mereka juga perlu melindungi diri dari kejahatan internal.
Jelas bahwa hati dan pikiran tidak bisa memikirkan hal-hal duniawi. Pikiran dan hatinya tidak boleh memikirkan hal lain selain Allah swt.
Pada tingkat ini, ketika hati dan pikiran dipenuhi dengan hal-hal selain Allah, maka puasanya tidak sah. Puasa pada tingkatan ini adalah puasa para pencinta Allah, termasuk para nabi-Nya.
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa puasa yang dilakukan oleh orang-orang soleh yaitu dengan menjaga badan dari dosa dengan 6 perkara:
Baca Juga: Tips Puasa Sehat Ala Rasulullah SAW
Pertama, Menutup mata dan menghentikan pandangan dari segala sesuatu yang dilarang dan dibenci, dan pada segala sesuatu yang memenuhi hati dan mengalihkan perhatian dari dzikir kepada Allah.
Hal ini sesuai dengan Al Qur'an surat Annur ayat 30-31 yang artinya:
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya."
Baca Juga: Keutamaan Sholat Tarawih di Setiap Malam di Bulan Ramadhan
Kedua, menjaga lisan tentang ucapan yang tidak bermanfaat, mengigau, mencari kejelekan orang lain,bertengkar, bersaing yang tidak sehat, berbohong, gosip, perkataan cabul, berkata kasar, kata-kata kotor, mengutuk, mencemooh.
Dengan menjaga lisan ini maka kita berusaha untuk menyibukkan lisan kita dengan dzikir kepada Allah swt, dan membaca Al-Qur'an.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh hadist Nabi yang artinya : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam."
Ketiga, menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang dilarang atau dimakruhkan. Hal ini karena segala sesuatu yang dilarang untuk dikatakan dilarang untuk didengarkan.
Artikel Terkait
Kelezatan Putu Mangkok,Sajian Istimewa Ramadhan dari Kepulauan Riau, Berikut Resepnya
Menikmati Suasana Ramadhan yang Mendalam di Makam Surgi Mufti:Destinasi Wisata Religi yang Penuh Makna
Lezatnya Bubur Kanji Rumbi - Kuliner Khas Aceh untuk Berbuka Puasa di Bulan Ramadhan
Gebyar Ramadhan di Kota Blora, Pengunjung Langsung Jatuh Hati dengan Produk UMKM
Keutamaan Sholat Tarawih di Setiap Malam di Bulan Ramadhan