Menurutnya, tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi adalah contoh insan kamil yang lahir dari sistem pendidikan Islam yang inklusif dan progresif.
Sementara itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menekankan perlunya evaluasi total terhadap sistem dan orientasi pendidikan pesantren.
Ia menegaskan bahwa pesantren harus memiliki daya saing tinggi untuk menjadi pemimpin di era digital, bukan sekadar pengikut.
“Jangan sampai pesantren hanya menjadi simbol. Ia harus menjadi solusi. Pesantren punya sejarah panjang dan kekuatan akar rumput yang luar biasa. Sekarang saatnya memimpin,” tegas Cak Imin.
Konferensi ini menjadi panggung pertemuan antara pemikiran tradisional dan inovatif, membuka jalan bagi lahirnya paradigma baru pendidikan Indonesia yang berakar kuat pada nilai dan terbuka terhadap perubahan zaman.
Pesantren, yang dulunya dianggap kuno, kini justru tampil sebagai pusat inovasi pendidikan berkelanjutan yang membumi dan mencerahkan.***