berita

Menag Nasaruddin Umar Paparkan Moderasi Beragama dan Ekoteologi di Georgetown University

Kamis, 22 Mei 2025 | 10:24 WIB
Menag Nasaruddin menyampaikan gagasannya di Georgetown University, Washington. (Foto: Kemenag.go.id)

WartaPesona.com- Washington, D.C. — Dalam forum prestisius di Georgetown University, Amerika Serikat, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengangkat gagasan besar yang melampaui batas geografis: moderasi beragama dan ekoteologi sebagai jalan damai global.

Forum ini diadakan oleh School of Foreign Service Institute for the Study of Diplomacy bersama Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding, Selasa (20/5/2025).

Dengan latar belakang sebagai alumni post-doktoral kampus yang sama, Menag Nasaruddin tampil bukan sekadar sebagai pejabat negara, tetapi sebagai duta nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas Nusantara.

Baca Juga: Wapres Gibran Tegaskan Peran Industri Manufaktur sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Indonesia: Miniatur Harmoni Global
Menag menggambarkan Indonesia sebagai "laboratorium keberagaman" yang hidup—dengan lebih dari 700 bahasa, 1.300 suku, serta enam agama resmi dan ratusan kepercayaan lokal yang berjalan berdampingan.

Dalam ruang keberagaman ini, agama bukan hanya identitas, tetapi juga pilar kebangsaan dan stabilitas sosial-politik.

"Tidak ada kebijakan strategis di Indonesia yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai agama," tegasnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Reformasi Regulasi Demi Kedaulatan Energi Nasional

Curriculum of Love: Pendidikan Berbasis Cinta
Salah satu terobosan Menag adalah Curriculum of Love, pendekatan pendidikan yang menanamkan cinta kasih, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan sejak dini di madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan.

“Toleransi bukan menyamakan keyakinan, tapi menghormati perbedaan dengan cinta,” ujarnya. Pendidikan menjadi senjata utama dalam membentuk generasi yang religius sekaligus humanis.

Kesetaraan Gender dan Peran Perempuan
Menag juga menyoroti kiprah perempuan dalam pendidikan berbasis agama. Menurutnya, lebih dari 25% lembaga pendidikan di Indonesia dijalankan organisasi keagamaan, dan mereka menjadi aktor penting dalam pemberdayaan perempuan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Nyatakan Babak Baru Energi Nasional di IPA Convex 2025: Kolaborasi Menuju Masa Depan Rendah Karbon

“Gerakan perempuan di Indonesia adalah salah satu yang paling maju di dunia Islam,” ungkapnya penuh keyakinan.

Ekoteologi: Spiritualitas Hijau dari Timur
Gagasan paling menarik adalah ekoteologi, pendekatan keagamaan yang mengaitkan ibadah dengan pelestarian lingkungan.

Halaman:

Tags

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB