Belum Punya Hunian Layak, Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Jalani Hari di Tenda Darurat

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 10 Februari 2026 | 14:01 WIB
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang membutuhkan bantuan karena masih tinggal di dalam tenda bahkan menjelang Ramadan - WartaPesona.com (Suara Merdeka Pekalongan)
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang membutuhkan bantuan karena masih tinggal di dalam tenda bahkan menjelang Ramadan - WartaPesona.com (Suara Merdeka Pekalongan)

WartaPesona.com – Warga Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, mengaku masih sangat membutuhkan bantuan pascabanjir bandang yang melanda wilayah mereka pada akhir November 2025 lalu.

Hingga awal Februari 2026, sebagian besar warga masih terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat karena rumah mereka hancur bahkan hanyut terseret arus banjir.

Desa Sekumur menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah dalam bencana tersebut.

Saat banjir datang, air meluap dengan kekuatan besar sambil membawa gelondongan kayu dari kawasan hulu.

Akibatnya, puluhan rumah warga rusak berat hingga rata dengan tanah, sementara fasilitas desa dan lahan pertanian ikut porak-poranda.

Kini, tiga bulan pascabencana, kondisi warga belum banyak berubah. Mereka masih harus memikirkan bagaimana menjalani ibadah Ramadan yang kian dekat dalam kondisi serba terbatas.

Baca Juga: Pemulihan Pascabencana, Sekolah dan Pesantren di Sumbar Dikebut Perbaikannya

Masih Bertahan di Tenda Bantuan

Kondisi terkini Desa Sekumur tergambar dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @waracantika06 pada Minggu (8/2/2026).

Dalam video berdurasi 58 detik tersebut, terlihat deretan tenda bantuan yang masih berdiri dan menjadi satu-satunya tempat tinggal warga.

“8 Februari 2026, mana yang bilang Sekumur baik-baik saja? Ini rumah hancur dan ini tenda tempat tinggal kami sekarang, tiga bulan pascabanjir,” ucap seorang warga dalam video itu.

Warga tersebut juga menyampaikan kekhawatirannya menghadapi bulan Ramadan. Menurutnya, tinggal di tenda membuat aktivitas harian, termasuk ibadah, menjadi jauh lebih berat.

“Kami masih tidur di tenda, kami masih kepanasan. Bayangkan nanti bulan puasa kami masih tidur di dalam tenda,” lanjutnya.

Kondisi tenda dinilai tidak layak untuk hunian jangka panjang. Pada siang hari, suhu di dalam tenda terasa sangat panas, sementara pada malam hari udara menjadi dingin.

Situasi ini dirasakan berat, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X