Namun, ia dan rekan-rekannya tetap berusaha bertahan demi tanggung jawab sebagai pendidik.
“Namun di balik pemahaman itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kami para guru tetap merasakan pahitnya perjuangan,” ungkapnya.
“Dengan penghasilan yang sangat minim, kami harus bertahan, mengatur ulang kebutuhan hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik tanpa mengurangi kualitas pengabdian,” sambung Fildzah.
Ia menegaskan bahwa unggahan yang ia buat bukan untuk meminta belas kasihan, apalagi menyudutkan pihak tertentu.
Menurutnya, curhatan tersebut semata-mata ingin menunjukkan realita yang masih dialami sebagian guru di Indonesia.
“Saya bangga menjadi guru. Kami bangga menjadi guru,” tuturnya.
“Dan selama masih diberi kekuatan, kami akan tetap mengabdi, meski dalam keterbatasan,” pungkas Fildzah.
Curhatan Fildzah pun menjadi cermin kondisi kesejahteraan guru PPPK paruh waktu di sejumlah daerah, sekaligus pengingat akan pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap nasib para pendidik yang berada di garda terdepan dunia pendidikan. *****
Artikel Terkait
Kisah Mencekam Warga Jatinegara Tegal Saat Tanah Bergerak : Dinding Retak, Rumah Ambruk, Menanti Kepastian Relokasi
Lewati Medan Ekstrem, Kisah Guru Padang Pariaman Kunjungi Murid Bikin Haru Warganet
Naik Loteng hingga Rooftop, Cerita Warga Aceh Tamiang Selamatkan Diri Bersama Tetangga Saat Banjir
Sekolah Kerap Terendam, Kisah Siswa SDN Leomanu Kupang Tetap Belajar Meski Kelas Digenangi Air Hujan