Soroti Longsor Cisarua, Pegiat Lingkungan Sebut Alih Fungsi Lahan Bukan Satu-satunya Penyebab

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 2 Februari 2026 | 14:10 WIB
Analisa Pegiat Lingkungan Sekaligus Warga Cisarua usai Bencana Longsor, Sebut Alih Fungsi Lahan Bukan Penyebab Utama - WartaPesona.com (ArahPublik)
Analisa Pegiat Lingkungan Sekaligus Warga Cisarua usai Bencana Longsor, Sebut Alih Fungsi Lahan Bukan Penyebab Utama - WartaPesona.com (ArahPublik)

“Sementara kami masih berusaha bertahan, mencari, dan berduka atas kehilangan saudara-saudara kami,” ungkapnya.

Baca Juga: Longsor Kali Bekasi Rusak Rumah Warga, Pepohonan dan Tembok Penahan Ikut Runtuh

Analisis Penyebab Longsor di Cisarua

Lebih lanjut, Aisyah memaparkan analisisnya mengenai kronologi dan faktor penyebab longsor yang terjadi di wilayah Cisarua.

Ia menyebut, alih fungsi lahan memang bisa menjadi salah satu faktor risiko, namun bukan faktor utama dalam kejadian ini.

“Titik awal longsor berasal dari puncak Gunung Burangrang yang masih rimbun. Pemicunya adalah hujan dengan intensitas sangat tinggi,” jelas Aisyah.

Menurutnya, longsoran tanah di bagian puncak menutup jalur aliran air alami. Kondisi ini kemudian membentuk semacam bendungan alami yang menahan air hujan bercampur sedimen.

“Air bercampur sedimen lalu jebol. Kondisi ini diperparah oleh kemiringan lereng yang mencapai 20 hingga 25 persen,” terangnya.

Saat bendungan alami tersebut jebol, aliran air bercampur lumpur, batu, dan pasir meluncur dengan kecepatan tinggi ke wilayah bawah.
“Aliran air lumpur, batu, dan pasir meluncur deras dan menghantam rumah-rumah warga,” tambah Aisyah.

Dari kejadian itu, ia menegaskan bahwa bahkan kawasan dengan tutupan hutan yang masih lebat pun kini tidak sepenuhnya mampu menahan dampak cuaca ekstrem.
“Apalagi jika alam terus dikorbankan,” ujarnya.

Baca Juga: Dari Kejar Penjambret hingga Bebas, Perjalanan Kasus Hogi Minaya yang Akhirnya Dihentikan

Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Aisyah juga menyoroti peran perubahan iklim global dalam meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang.

Menurutnya, pemanasan global menyebabkan peningkatan suhu udara yang berdampak langsung pada pola curah hujan.

“Udara yang lebih panas mampu menampung lebih banyak uap air,” jelasnya.

Ketika hujan turun, uap air tersebut dilepaskan dalam jumlah besar, sehingga hujan menjadi lebih deras dan berlangsung lebih lama.
“Saat hujan turun, air yang dilepaskan menjadi lebih deras dan berlangsung lebih lama,” sambung Aisyah.

Kondisi tersebut membuat kejadian hujan ekstrem semakin sering terjadi dan secara signifikan meningkatkan risiko longsor serta banjir bandang di wilayah rawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X