Namun, gaya kepemimpinan Trump yang personal dan berorientasi bisnis dinilai rawan disalahartikan oleh aktor lain.
Bagi Indonesia, Francois merekomendasikan penguatan diplomasi jalur kedua (track-two diplomacy), perluasan kolaborasi akademik dan kebijakan, serta peningkatan kerja sama di bidang keamanan non-tradisional seperti siber, perlindungan infrastruktur kritis, keamanan maritim non-militer, dan konservasi lingkungan.
Baca Juga: Dinilai Salah Pasal, Penetapan Tersangka Hogi Usai Lindungi Istri dari Penjambret Disorot
Tantangan dan Peluang bagi Indonesia
Diskusi ISI tersebut menyimpulkan bahwa meskipun kebijakan retrenchment Amerika Serikat telah mengubah lanskap strategis Indo-Pasifik, kawasan ini tetap menjadi poros utama geopolitik global.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memperkuat kapabilitas maritim dan pertahanan nasional, menjaga sentralitas ASEAN di tengah dinamika minilateralisme, serta menavigasi persaingan kekuatan besar melalui diplomasi yang pragmatis, non-blok, dan berlandaskan kepentingan nasional.
Dalam situasi geopolitik yang semakin cair dan penuh ketidakpastian, Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi rule taker, tetapi juga rule shaper dalam menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan Indo-Pasifik. *****
Artikel Terkait
Dinilai Salah Pasal, Penetapan Tersangka Hogi Usai Lindungi Istri dari Penjambret Disorot
Disorot DPR, Kapolresta Sleman Dikritik soal Pemahaman Pasal KUHP dalam Kasus Lawan Penjambret
Polda DIY Ambil Langkah Tegas, Kapolresta Sleman Dinonaktifkan usai Penetapan Tersangka Suami Lawan Penjambret
Diduga Keracunan Menu MBG, Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Alami Mual hingga Diare