Dorongan Kemandirian Strategis Negara Kawasan
Dari perspektif pertahanan Indonesia, Kepala Pusat Studi Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla., menilai perubahan sikap Amerika Serikat mendorong negara-negara kawasan untuk memperkuat otonomi strategisnya.
Menurut Salim, kebijakan retrenchment AS menjadi sinyal bahwa ketergantungan berlebihan pada kekuatan eksternal berisiko terhadap stabilitas nasional.
Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat internal balancing melalui pembangunan kapabilitas pertahanan sendiri.
Ia menekankan pentingnya peningkatan pengawasan maritim, modernisasi kekuatan laut, penguatan armada, serta pembangunan infrastruktur pelabuhan strategis guna menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan mencegah eskalasi konflik akibat salah perhitungan strategis.
“Kerja sama regional melalui ASEAN tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan postur pertahanan nasional yang kuat dan mandiri,” ujar Salim.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif, dengan menghindari keterjebakan dalam rivalitas terbuka antara Amerika Serikat dan China.
Baca Juga: Disorot DPR, Kapolresta Sleman Dikritik soal Pemahaman Pasal KUHP dalam Kasus Lawan Penjambret
Tekanan terhadap Sentralitas ASEAN
Direktur Riset ISI, Dr. Ian Montratama, menyoroti bahwa eskalasi persaingan AS-China telah memberikan tekanan signifikan terhadap sentralitas ASEAN.
Munculnya berbagai kerja sama minilateral seperti AUKUS dan Quad dinilai berpotensi menggerus peran ASEAN sebagai arsitek utama keamanan kawasan.
Montratama mengusulkan pendekatan realisme pragmatis melalui konsep armed neutrality, yakni penguatan kapabilitas pertahanan nasional yang disertai keterbukaan terhadap kerja sama fungsional dengan kekuatan besar.
Menurutnya, Indonesia dapat menerapkan strategi functional decoupling dengan tetap menjalin kerja sama ekonomi dan pembangunan bersama China, sekaligus mengembangkan kolaborasi pertahanan dan keamanan dengan Amerika Serikat tanpa harus berpihak secara politik.
“Biaya untuk menjadi musuh Amerika Serikat maupun China sangat besar. Namun, ketergantungan berlebihan pada salah satu pihak juga membawa risiko strategis jangka panjang,” tegas Montratama.
Indo-Pasifik sebagai Kerangka Jangka Panjang
Pandangan lain disampaikan oleh Dr. Jeanne Francois, Dosen Hubungan Internasional di President University.
Ia menilai konsep Indo-Pasifik telah berevolusi dari sekadar slogan politik menjadi kerangka strategis yang relatif berkelanjutan dalam membentuk interaksi geopolitik kawasan.
Melalui narasi Free and Open Indo-Pacific, Amerika Serikat berupaya menjaga keseimbangan kekuatan, mempertahankan norma internasional, serta mencegah dominasi tunggal China tanpa memicu konflik terbuka.
Artikel Terkait
Dinilai Salah Pasal, Penetapan Tersangka Hogi Usai Lindungi Istri dari Penjambret Disorot
Disorot DPR, Kapolresta Sleman Dikritik soal Pemahaman Pasal KUHP dalam Kasus Lawan Penjambret
Polda DIY Ambil Langkah Tegas, Kapolresta Sleman Dinonaktifkan usai Penetapan Tersangka Suami Lawan Penjambret
Diduga Keracunan Menu MBG, Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Alami Mual hingga Diare