Harap Pemerintah Bangun Jembatan
Edigar berharap pemerintah dapat segera membangun jembatan di titik Sungai Noelmina tersebut agar distribusi MBG dan aktivitas masyarakat dapat berjalan lebih aman dan efisien.
Pasalnya, jika harus memutar melalui jalur darat alternatif, perjalanan menuju Desa Tuppan bisa memakan waktu hingga tiga sampai empat jam.
Jalur tersebut melewati jalan berbatu dengan kondisi rawan longsor di sisi kiri dan kanan, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berharap titik ini bisa dibangun jembatan. Kalau hujan turun, distribusi MBG selalu terhambat,” ujarnya.
Ia juga menaruh harapan besar pada Satgas Percepatan Pembangunan Jembatan yang dibentuk Presiden agar dapat menjangkau wilayah-wilayah terpencil seperti Desa Koa.
“Harapan kami, semoga pemerintah bisa membantu membangun jembatan untuk mempermudah pelayanan MBG ke desa seberang,” tutur Edigar.
Demi Anak-anak, Warga Rela Ambil Risiko
Sebelumnya, setiap kali hujan deras turun dan Sungai Noelmina meluap, distribusi MBG ke sekolah-sekolah di seberang sungai kerap dihentikan karena alasan keselamatan.
Namun kali ini, demi memastikan kebutuhan gizi anak-anak tetap terpenuhi, masyarakat sekitar sekolah memilih turun tangan langsung.
Mereka rela menggotong MBG menembus derasnya arus sungai dan mengantarkannya hingga ke ruang-ruang kelas.
Kisah ini menjadi potret nyata tantangan pelaksanaan program nasional di wilayah terpencil,
sekaligus menunjukkan kuatnya semangat gotong royong warga dalam memastikan hak dasar anak-anak tetap terpenuhi, meski harus bertaruh nyawa di tengah keterbatasan infrastruktur. *****
Artikel Terkait
Pascabanjir Aceh Timur, Warga Desa Pante Kera Masih Krisis Logistik dan Fasilitas Ibadah
Aksi Kemanusiaan Togap MCI di Aceh Tamiang, Masak dan Berbagi untuk Korban Banjir
Sekolah Rusak Diterjang Banjir, Bocah Agam Sumbar Tetap Simpan Harapan Bisa Belajar Kembali
Anggaran Program MBG Disorot, ICW Ungkap Belanja Alat Makan hingga Seragam BGN Capai Ratusan Miliar Rupiah