sehingga kegagalan panen tidak hanya berdampak pada ekonomi keluarga, tetapi juga mengancam ketahanan pangan lokal.
“Kami bermitra dengan kelompok tani di desa ini. Delapan puluh persen penduduknya adalah petani. Ini harus menjadi perhatian bersama, baik negara maupun masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pertanian merupakan salah satu tulang punggung kehidupan masyarakat Aceh, sehingga pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada bantuan darurat semata.
Baca Juga: Tangis Guru di Pidie Jaya Pecah Usai Laptop Berisi Data Sekolah Rusak Diterjang Banjir Bandang
Kisah Petani yang Gagal Panen di Ambang Panen
Dalam salah satu cuplikan video, Virdian berdialog langsung dengan petani setempat yang menceritakan kondisi pahit saat banjir bandang menerjang lahan mereka.
“Kami itu sebenarnya sudah mau panen, tapi tiba-tiba banjir datang. Akhirnya gagal panen semua,” ungkap seorang petani.
Ia menambahkan bahwa hampir seluruh sawah di wilayah tersebut terendam, membuat petani kesulitan untuk memulai kembali aktivitas bercocok tanam.
“Hampir semuanya gagal panen. Sekarang susah, terendam semua,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Virdian, berpotensi memicu lonjakan harga bibit dan beras dalam waktu dekat, mengingat banyak daerah penghasil beras yang terdampak bencana secara bersamaan.
“Kalau kondisi seperti ini, bisa dipastikan ke depan harga bibit dan beras akan mahal, karena mayoritas petani kesulitan memulai tanam kembali,” ujar Virdian.
Peran Mahasiswa Pertanian dan Pentingnya Kebijakan Negara
Dalam diskusi lapangan, Virdian juga melibatkan Ridho, seorang mahasiswa pertanian yang turut membantu menyusun konsep pemulihan agar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Ridho menjelaskan bahwa ketahanan pangan memiliki empat dimensi utama, yakni ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.
Keempat aspek tersebut, menurutnya, harus menjadi pertimbangan utama dalam merancang program pemulihan pascabencana.
“Selain bantuan teknis, intervensi kebijakan dari pemerintah juga sangat penting, terutama dalam pengolahan lahan dan distribusi sarana produksi,” ujar Ridho.
Artikel Terkait
Lewat Dongeng dan Bahasa Anak, Influencer Virdian Aurellio Tanamkan Kesadaran Lingkungan pada Anak-anak Aceh Pascabencana
Momen Haru di Aceh Tamiang, Anak-anak TK Nyanyikan Lagu Penyemangat untuk Prajurit TNI
Kisah Guru Aceh Tengah Seberangi Sungai Pakai Tali Berujung Solusi, Jembatan Darurat Kini Bisa Dilalui Warga
Tangis Guru di Pidie Jaya Pecah Usai Laptop Berisi Data Sekolah Rusak Diterjang Banjir Bandang
Sherly Annavita Kritik Kondisi Akses di Maluku Utara, Warga Terpaksa Seberangi Sungai Deras