Kejadian ini menjadi banjir bandang kedua yang melanda kawasan tersebut, membuat warga semakin waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama saat hujan deras kembali turun.
Baca Juga: Hidup di Tengah Krisis Air Bersih, Warga Tamiang Hulu Gunakan Air Banjir untuk Aktivitas Sehari-hari
Banjir Surut, Lumpur dan Batu Berserakan
Menjelang sore hari, sekitar pukul 18.10 WIB, banjir bandang dilaporkan mulai surut. Badan jalan yang sebelumnya terendam air dan lumpur mulai bisa dilalui kembali, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Meski demikian, kondisi pascabanjir masih menyisakan persoalan. Lumpur tebal yang masih basah menutupi jalanan dan halaman rumah warga,
sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan. Selain itu, bongkahan batu dengan berbagai ukuran tampak berserakan di sejumlah titik, memperlihatkan kuatnya daya rusak banjir bandang yang terjadi.
Seorang perekam video yang mengunggah kondisi tersebut melalui akun Instagram @pdg24jam mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan banjir kedua yang melanda wilayah Maninjau.
“Dua kali diterjang galodo (banjir). Sungai penuh sama batu, lumpur di Maninjau, guys,” ucapnya dalam video yang diunggah pada Kamis, 25 Desember 2025.
Baca Juga: Pascabanjir di Bener Meriah, Jembatan Darurat Masih Rawan dan Akses Logistik Terhambat
Warga Masih Waspada Potensi Banjir Susulan
Meski air telah surut, warga setempat mengaku masih diliputi rasa khawatir, mengingat curah hujan di wilayah Agam masih terbilang tinggi.
Kekhawatiran tersebut diperkuat dengan kondisi sungai yang dipenuhi material batu dan lumpur, sehingga daya tampung aliran air menjadi berkurang.
Warga berharap adanya pembersihan sungai dan normalisasi aliran air untuk mencegah terulangnya banjir bandang, terutama di tengah musim hujan yang masih berlangsung.
Update Korban Banjir Sumatera
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak banjir besar yang melanda Sumatera sejak akhir November 2025 masih menyisakan duka mendalam.
Hingga 25 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.135 orang, sementara 173 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian.
Rincian korban meninggal dunia tersebut berasal dari Aceh sebanyak 503 orang, Sumatera Utara 371 orang, dan Sumatera Barat 261 orang.
Khusus di Sumatera Barat, Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi.
Artikel Terkait
Jalan Terputus, Warga Rusip Antara Aceh Tengah Bangun Jembatan Darurat Secara Manual
Pascabanjir di Bener Meriah, Jembatan Darurat Masih Rawan dan Akses Logistik Terhambat
Hidup di Tengah Krisis Air Bersih, Warga Tamiang Hulu Gunakan Air Banjir untuk Aktivitas Sehari-hari
Akses Terputus, Relawan dan Warga Gotong Royong Seberangkan Logistik ke Desa Pasir Gayo Lues