Terobos Hutan dan Bukit, Warga Tapanuli Tengah Tempuh 5 Jam Demi Bantuan Logistik

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 18 Desember 2025 | 14:41 WIB
seorang wanita yang rela berjalan menyusuri hutan dan gunung selama lima jam demi menjemput bantuan logistik - WartaPesona.com (Bangbara)
seorang wanita yang rela berjalan menyusuri hutan dan gunung selama lima jam demi menjemput bantuan logistik - WartaPesona.com (Bangbara)

Cuaca ekstrem semakin memperparah kondisi di lapangan. Hujan deras yang turun membuat jalur pegunungan semakin licin dan berbahaya.

Meski demikian, kebutuhan pangan yang mendesak memaksa warga tetap melanjutkan perjalanan, meski harus basah kuyup dan menghadapi risiko terpeleset atau tertimpa material longsor.

Baca Juga: Derita Warga Desa Juar Aceh Tamiang : Kelaparan dan Kehilangan Harta Setelah Banjir Bandang

“Semalam kami hujan-hujanan. Pokoknya di jalan gunung itu kami lari-lari saja,” tuturnya, menggambarkan suasana mencekam saat menembus jalur pegunungan.

Ketakutan akan potensi longsor atau bahaya lain membuat mereka harus bergerak cepat. Mereka menyadari bahwa berlama-lama di jalur tersebut justru meningkatkan risiko keselamatan.

Di tengah kondisi alam yang labil, kecepatan menjadi satu-satunya pilihan untuk mengurangi ancaman.

“Mau bagaimana lagi, nyawa lebih penting,” imbuhnya dengan nada pasrah namun tetap tegar.

Baca Juga: Tiga Hari Menahan Lapar dan Haus, Warga Aceh Tamiang Hanya Terima Beras Dua Gelas

Rasa sakit fisik akibat medan yang tajam dan penuh duri pun seolah tidak lagi terasa. Kaki yang tertusuk duri, tubuh yang kelelahan, hingga rasa nyeri akibat perjalanan panjang harus mereka abaikan demi satu tujuan utama, yakni membawa pulang makanan untuk keluarga yang menunggu.

“Kadang kena duri kaki kami tidak terasa,” tutup remaja tersebut, mengakhiri ceritanya dengan kalimat sederhana namun penuh makna.

Perjuangan warga Sibolga ini menjadi potret nyata betapa beratnya distribusi bantuan di wilayah yang terisolasi secara geografis.

Bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses kehidupan, memaksa warga mempertaruhkan nyawa hanya demi sepiring nasi.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penanganan cepat dan pembangunan akses darurat agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga terdampak tanpa harus dibayar dengan keselamatan manusia. *****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X