Cuaca ekstrem semakin memperparah kondisi di lapangan. Hujan deras yang turun membuat jalur pegunungan semakin licin dan berbahaya.
Meski demikian, kebutuhan pangan yang mendesak memaksa warga tetap melanjutkan perjalanan, meski harus basah kuyup dan menghadapi risiko terpeleset atau tertimpa material longsor.
Baca Juga: Derita Warga Desa Juar Aceh Tamiang : Kelaparan dan Kehilangan Harta Setelah Banjir Bandang
“Semalam kami hujan-hujanan. Pokoknya di jalan gunung itu kami lari-lari saja,” tuturnya, menggambarkan suasana mencekam saat menembus jalur pegunungan.
Ketakutan akan potensi longsor atau bahaya lain membuat mereka harus bergerak cepat. Mereka menyadari bahwa berlama-lama di jalur tersebut justru meningkatkan risiko keselamatan.
Di tengah kondisi alam yang labil, kecepatan menjadi satu-satunya pilihan untuk mengurangi ancaman.
“Mau bagaimana lagi, nyawa lebih penting,” imbuhnya dengan nada pasrah namun tetap tegar.
Baca Juga: Tiga Hari Menahan Lapar dan Haus, Warga Aceh Tamiang Hanya Terima Beras Dua Gelas
Rasa sakit fisik akibat medan yang tajam dan penuh duri pun seolah tidak lagi terasa. Kaki yang tertusuk duri, tubuh yang kelelahan, hingga rasa nyeri akibat perjalanan panjang harus mereka abaikan demi satu tujuan utama, yakni membawa pulang makanan untuk keluarga yang menunggu.
“Kadang kena duri kaki kami tidak terasa,” tutup remaja tersebut, mengakhiri ceritanya dengan kalimat sederhana namun penuh makna.
Perjuangan warga Sibolga ini menjadi potret nyata betapa beratnya distribusi bantuan di wilayah yang terisolasi secara geografis.
Bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses kehidupan, memaksa warga mempertaruhkan nyawa hanya demi sepiring nasi.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penanganan cepat dan pembangunan akses darurat agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga terdampak tanpa harus dibayar dengan keselamatan manusia. *****
Artikel Terkait
Tiga Hari Menahan Lapar dan Haus, Warga Aceh Tamiang Hanya Terima Beras Dua Gelas
Derita Warga Desa Juar Aceh Tamiang : Kelaparan dan Kehilangan Harta Setelah Banjir Bandang
Akses Putus usai Banjir Bandang, Ibu Hamil di Sumbar Terpaksa Lewati Tebing Curam
Keceriaan Kecil di Tengah Bencana, Bocah Pengungsi Aceh Tamiang Bersorak Terima Pakaian