WartaPesona.com - Memiliki panggilan Chef Michael, pria yang memiliki nama asli Michael Irawan ini telah menggeluti bidang gastronomi selama 24 tahun sejak 1997. Gastronomi atau tata boga merupakan seni atau ilmu akan konsumsi yang baik (good eating).
Chef Michael membagikan kisah inspiratif awal mula ia melihat sosok seorang “chef” dalam hidupnya, yaitu ayahnya. Chef Michael berasal dari keluarga sederhana, seorang anak lelaki dari 11 bersaudara.
Ayahnya dikatakan selalu menemukan cara yang unik untuk memasak meski- pun terdapat keterbatasan bahan, uang, dan waktu. Sang ayah selalu mengatakan “I'll make a magic for you", dan Chef Michael kemudian menunggu dengan bahagia hasil masakan ayahnya.
Sesuai artikel di Pesona E-Magazine Edisi IV/21 bahwa menurut Chef Michael, hasil masakan ayahnya terbilang inovatif, seperti contohnya daun singkong karet yang bersifat toxicant dapat diolah menjadi gulai daun singkong yang lembut. Saat memasak udang, ayahnya tak lupa untuk menyisihkan kulit udang.
Baca Juga: Pondok Mai Cenggo : Tempat Wisatawan Singgah Khas Nusantara di Labuan Bajo Hanya 1 KM dari Bandara
“Kelezatan udang terletak di kulitnya”, ucap ayahnya. Kulit udang tersebut kemudian direbus, ditumbuk, dan disaring sehingga menjadi shrimp broth yang dapat digunakan untuk berbagai jenis masakan.
Sang ayah menjadi tokoh penting dalam hidup Chef Michael yang mengajarkannya kreativitas dan survival tanpa batas. Hal ini menumbuhkan keberanian yang ia butuhkan untuk mendirikan restoran miliknya sendiri.
Ia memilih Jepang sebagai tema restorannya karena masyarakat Indonesia dinilai sudah akrab dengan masa- kan Jepang, dan di tempat ia tinggal, yaitu di daerah Labuan Bajo, belum banyak penyedia makanan bertema Jepang yang terjangkau.
Mikisu Izakaya merupakan sebuah restoran yang ia dirikan, sekaligus sebuah media untuk menyalurkan ilmu gastronomi dan visi serta misi dari seorang Chef Michael.
Restoran ini juga ia dirikan untuk memenuhi kebutuhan warga yang tinggal di daerah Labuan Bajo akan makanan modern dan lintas bangsa.
Chef Michael mengungkapkan keunikan dari restorannya terletak pada bahan makanan yang digunakan untuk setiap masakannya.
Dengan adanya keterbatasan persediaan bahan makanan di Labuan Bajo seperti kombu, katsuoboshi, mirin, sake, dan toga- rashi, ia memutuskan untuk mengolah bahan tersebut berdasarkan referensi dan literatur dari resep tradisional Jepang dari zaman Edo/Tokigawa (江戸時代1603-1867).
Artikel Terkait
Sandiaga Uno Menparekraf Dorong Content Creator di Bandung Turut Promosikan Sektor Parekraf
Sandiaga Uno Menparekraf Optimistis Wisman Tiongkok Perkuat Capaian Target 7,4 Juta Kunjungan di 2023
Anderson Talisca: Bintang dari Pertandingan Al-Nassr vs Ettifaq dalam Debut Ronaldo. Al-Nassr Naik ke Puncak
Man City vs Wolves : Haaland Kembali Menjadi Pahlawan Saat Menang 3-0, Cetak Hattrick ke Empat, Total 31 Gol
Zinchenko dan Arsenal Siap Kembali Menghadapi Mantan Klubnya Manchester City f.c. di Piala FA
Sandiaga Uno Menparekraf Dorong Pelaku UMKM Bandung Berkolaborasi dengan Komunitas TDA
Wout Weghorst Pernah Ditolak Arsenal dan Tottenham Sebelum Gabung Manchester United
Pembakaran Al Quran Swedia, Perdana Menteri : Walau Kebebasan Berpendapat, Ini Tindakan Sangat Tidak Hormat
Pondok Mai Cenggo : Tempat Wisatawan Singgah Khas Nusantara di Labuan Bajo Hanya 1 KM dari Bandara
Sandiaga Uno Menparekraf Dorong UMKM Desa Wisata Baros Jabar Kembangkan Potensi Parekraf