Fenomena ini sempat menjadi bagian dari tradisi pertunjukan di Banyuwangi.
Akan tetapi, memasuki akhir 1890-an, tradisi Gandrung laki-laki mulai ditinggalkan.
Pengaruh ajaran agama yang melarang pria berpenampilan seperti wanita menjadi faktor utama.
Hingga tahun 1914, penampilan Gandrung laki-laki benar-benar lenyap dari panggung seni Banyuwangi.
Baca Juga: 12 Geopark Indonesia yang Diakui UNESCO, Warisan Geologi Mendunia di Cincin Api
Filosofi Gerak: Lebih dari Sekadar Estetika
Keindahan Tari Gandrung terletak pada harmoni gerakan yang melibatkan tangan, kaki, dan bahu secara selaras.
Setiap gerakan bukan semata-mata untuk keindahan visual, melainkan sarat dengan makna filosofis yang mendalam.
Kelembutan gerakan tangan mencerminkan rasa syukur dan penghormatan terhadap alam yang telah memberikan hasil panen melimpah.
Sementara itu, langkah kaki yang dinamis dan penuh energi melambangkan kerja keras, ketekunan, serta keteguhan hati para petani dalam mengolah lahan.
Seiring perkembangan zaman, dimensi makna Tari Gandrung terus bertambah.
Tarian ini tidak lagi sekadar dipersembahkan kepada sesama manusia, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta yang memberi kehidupan dan kesejahteraan.
Gandrung sebagai Simbol Perlawanan
Pada masa penjajahan, Tari Gandrung mengalami transformasi fungsi. Selain sebagai hiburan, tarian ini menjadi medium perlawanan terhadap penjajah.
Artikel Terkait
Menteri Pariwisata Apresiasi Keragaman Ide dan Inovasi Bisnis Finalis Demoday FSI 2025
Kecil-Kecil Tapi Penting! Stasiun Gubug Bukti Peran Besar Transportasi Daerah
Kereta Makassar-Parepare: Cara Baru Menjelajahi Keindahan Sulawesi Selatan
Cross Border Tourism, Membangun Pariwisata dari Perbatasan