HUT ke-268 Kota Yogyakarta diperingati tanggal 7 Oktober, sejarahnya begini

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Kamis, 3 Oktober 2024 | 15:46 WIB
HUT Kota Yogyakarta diperingati setiap tanggal 7 Oktober, berdasarkan sejarahnya di masa lalu.  (jogjakota.go.id)
HUT Kota Yogyakarta diperingati setiap tanggal 7 Oktober, berdasarkan sejarahnya di masa lalu. (jogjakota.go.id)

WartaPesona.com - HUT ke-268 Kota Yogyakarta yang akan diperingati pada 7 Oktober 2024, tentu saja tak sekadar asal pilih tanggal.

Peringatan HUT ke-268 Kota Yogyakarta pada tanggal 7 Oktober 2024 itu ada sejarahnya, yang terkait dengan berdirinya Kesultanan.

Tak heran, jika peringatan HUT ke-268 Kota Yogyakarta pada 7 Oktober 2024 mendatang akan dimeriahkan dengan berbagai acara. Demikian pula dengan peringatannya pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Tips sehat diet langsing tubuh apel, tanpa ribet!

HUT Kota Yogyakarta yang diperingati setiap tanggal 7 Oktober, berawal dari adanya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 Masehi.

Perjanjian itu membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta (Keraton Solo), dan Kasultanan Ngayogyakarta (Keraton Yogyakarta).

Ketika itu, Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Raja Mataram Ngayogyakarta bergelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah, atau Sultan HB I.

Baca Juga: Opening ceremony Peparnas 2024 di Kota Solo, ada tiket gratis yang bisa diakses di sini

Sultan HB I memberi nama daerah kekuasaannya sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan ibu kota di Ngayogyakarta (Kota Yogyakarta).

Penamaan itu diumumkan luas pada 13 Maret 1755, dan dikenal sebagai peristiwa Hadeging Nagari Ngayogyakarta atau berdirinya Keraton Yogyakarta.

Sultan HB I kemudian memilih Hutan Pabringan sebagai lokasi pembangunan kerajaannya, yang berada di antara dua sungai besar, Winongo dan Code.

Baca JugaInnalillahi, Marissa Haque meninggal dunia, sang putri tuliskan kabar dan doa mengharukan

Bakal lokasi Keraton Yogyakarta ditandai dengan adanya umbul atau mata air bernama Pacethokan, yang diduga mata air ini di kemudian hari menjadi Umbul Winangun di kompleks Tamansari.

Kemudian, pada tanggal 9 Oktober 1755 babat alas atau pembukaan lahan dimulai, dan untuk sementara waktu Sultan HB I menempati Pesanggrahan Ambarketawang di Gamping, Sleman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA

Sumber: jogjakota.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X