Kini giliranmu menjadi kupu-kupu.
Hinggaplah di tangan Tuhan,
dan biarkan kami yang belajar
melepaskan.
Kupu-kupu itu kini hinggap di doa kami,
ringan,
seperti napas terakhirmu
yang akhirnya pulang
ke pemilik segala sayap.
Kini kami sadar, adikku,
betapa banyak cinta yang tak sempat kami ucapkan,
betapa banyak pelukan yang kami tunda,
dan betapa cepat seseorang berubah menjadi kenangan.
Kami mengantarmu dengan air mata.
Namun cinta kami
tidak ikut terkubur bersamamu.
Dan jika suatu sore
seekor kupu-kupu kuning
hinggap sejenak di jendela kami,
kami tidak akan mengejarnya lagi,
adikku.
Kami akan membuka tangan,
dan berbisik pelan:
“Selamat datang kembali.”
Karena kami tahu, cinta selalu menemukan jalan pulang.
Ia datang dalam doa,
dalam kenangan,
dan dalam rindu yang tak pernah selesai
Ia akan tinggal dalam doa-doa kami,
setiap malam,
setiap rindu.
Selamat jalan, adikku.
Kini kami tahu, adikku,
tak semua kupu-kupu hilang saat terbang;
sebagian menjadi langit yang diam-diam menjaga.