opini

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Suatu sore aku berlari mengejar kupu-kupu di halaman,
tetapi tak satu pun berhasil kutangkap.

Kau tersenyum lalu berkata,

“Semakin kupu-kupu dikejar,
semakin ia menjauh.”

Esok harinya kau datang mencariku,
membawa seekor kupu-kupu kecil
di kedua tanganmu.

“Ini untukmu,” katamu.

Aku masih mengingat wajahmu sore itu.

Seolah kau telah mengetahui sesuatu
yang baru kupahami hari ini:
bahwa tidak semua yang indah
harus dimiliki.

Bertahun-tahun kemudian,
ketika tubuhmu mulai letih
oleh sakit yang tak mau pergi,
aku sering teringat sore itu.

Entah mengapa,
kaulah yang selalu berhasil menangkap kupu-kupu,
sementara aku hanya pandai mengejarnya.

Belasan tahun kau menggendong sakit
seperti kepompong menggendong sayap,
diam,
sabar,
tanpa mengeluh.

Kini kepompong itu pecah.

Dan kami baru mengerti.

Seluruh hidupmu ternyata adalah persiapan
untuk satu kali terbang
yang sempurna.

Mungkin selama ini kami mengira
kau sedang kalah melawan sakit.

Kini kami tahu,
yang kami lihat sebagai luka
ternyata adalah sayap
yang sedang tumbuh perlahan.

Halaman:

Tags

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB