Baca Juga: Indonesia gagal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia U-17 2023, Kaka: Tim sudah berjuang keras!
“Maksud saya, pejalan spiritual malam Ibu”, timpal saya.
Belakangan saya juga mendengar cerita, Mbak Titiek termasuk putri Presiden Soeharto yang sering tirakat.
Masih aktif puasa weton (hari kelahiran dalam kalender Jawa), sebagaimana Ibu Tien melakukan.
Obrolan berlanjut. Saya teringat wawancara dengan wartawan tadi.
Baca Juga: Piala Dunia U-17 2023, Indonesia di ujung tanduk setelah kalah dari Maroko
Saya curi-curi dengar dari tempat yang agak berjarak. Saya jadikan bahan bertanya ke Mbak Titiek.
“Ibu.. kalau ada kesempatan, bagaimana cara ibu mengatasi masalah kedaulatan pangan ini”, tanya saya.
Jawabannya mengagetkan saya, “Mafia pangan harus diadili. Diseret ke penjara”, jawabnya tegas, intonasinya biasa, tanpa dibuat-buat.
Saya kaget dengan jawaban itu. Setidaknya oleh beberapa hal.
Baca Juga: Indonesia vs Maroko di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya malam ini, penentu lolos babak 16 besar?
Pertama, itu bukan obrolan basa-basi. Obrolan santai. Bukan candaan. Bukan setingan wawancara.
Maka, tampak ketulusan dari jawaban itu. Dari sudut pandang Mbak Titiek, para mafia pangan itu masalahnya.
Caranya harus diadili. Hama-hama penyebab kegagalan usaha perjuangan kedaulatan pangan harus dibersihkan.
Mafia pangan harus ditertibkan. Petani harus dilindungi dari mafia pangan.