Tanggapi Childfree. Mahasiswi ITS : Bukan Keputusan Egois

photo author
Tim WartaPesona, Warta Pesona
- Rabu, 15 Februari 2023 | 07:37 WIB
Ilustrasi Pasangan Keluarga Childfree | wartapesona.com (Foto : Freepik.com)
Ilustrasi Pasangan Keluarga Childfree | wartapesona.com (Foto : Freepik.com)

 

WartaPesona.com - Memiliki anak adalah dambaan umum bagi pasangan suami dan istri. Ekspektasi sosial yang mengatakan jika menikah harus mempunyai anak menyebabkan problematika bagi pasangan yang tidak ingin memiliki anak.

Akhir-akhir ini banyak bermunculan di media social dan media massa tentang pernyataan dari pasangan suami istri yang lebih memilih untuk childfree dibandingkan memiliki keturunan.

Childfree adalah merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan pasangan suami istri yang memilih untuk tidak memiliki buah hati atau keturunan. Tidak sedikit childfree menuai beragam kontra dengan sosialita di Indonesia.

Baca Juga: Mengungkap Asal Usul Hari Kasih Sayang: Sejarah Valentine Day 14 Februari Tanggal yang Dirayakan Setiap Tahun

Umumnya masyarakat Indonesia mengenal mempunyai keturunan sebagai tujuan dari menikah yang akan dijadikan sebagai generasi penerus keluarga, seperti dikutip dari laman ITS.ac.id.

Terlebih juga ada pernyataan yang mengatakan “Banyak anak, banyak rezeqi”. Melalui ungkapan ini banyak tim kontra pemikiran childfree yang akan menekan batin pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Munculnya paradigma pemikiran ini tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor dan motif yang berbeda. Salah satu motif kasusnya pada Victoria Tunggono atau lebih kerap disapa Tori.

Baca Juga: Alika Islamadina, Traveler Berprestasi di Dunia Musik dan Fashion, Mengajak Berwisata Domestik ke Desa Wisata

Dalam bukunya yang berjudul Childfree and Happy, Tori menulis jika umumnya orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, akan menghadapi bullying yang mengatakan jika sebagai seorang perempuan belum sempurna apabila belum melahirkan.

Childfree dapat saja terjadi apabila pasangan suami istri telah memikirkan alasan dan faktor-faktor lain seperti trauma yang ditimbulkan ketika masa kecil, keadaan kesehatan dari suami dan istri, dan beragam alasan lainnya.

Lain hal itu, alasan terbesar dari pasangan untuk memilih childfree adalah karena tidak siap untuk memikul besarnya tangggung jawab baik secara finansial maupun kesiapan mental untuk dapat membesarkan anaknya hingga mendapatkan kehidupan yang layak atau lebih baik.

Baca Juga: Merayakan Galentine's Day dengan Teman Perempuan Terbaik, Ini Sejarahnya, Tradisi Setiap Tanggal 13 Februari

Menanggapi isu childfree, Bening Anindita selaku Mahasiswi Jurusan S-1 Departemen Statistika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mengatakan jika pilihan untuk menikah tanpa memiliki anak merupakan hak dari setiap individu yang harus dijaga dan dihormati.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tim WartaPesona

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X