Pada tahun 1921, Tan Malaka datang ke Yogyakarta dan menetap di rumah Sutopo, mantan ketua organisasi Budi Utomo. Di sana, Tan Malaka ikut serta dalam Kongres ke-5 organisasi Sarekat Islam yang membahas tentang keanggotaan ganda Sarekat Islam dan PKI.
Baca Juga: Menanyakan Tentang Kematian Brigadir J , Mahareza Hutabarat : Banyak Orang Yang Blokir Nomor Saya
Keanggotaan PKI
Kongres tersebut membuat Sarekat Islam terpecah menjadi dua, Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang dipimpin oleh Semaun dan berdomisili di Semarang, Jawa Tengah.
Tan Malaka akhirnya bergabung dengan PKI dan pergi ke Semarang setelah diajak langsung oleh Semaun. Tak lama setelah dia bergabung, Tan Malaka ditunjuk untuk menggantikan Semaun sebagai Ketua PKI dalam kongres yang diselenggarakan pada tanggal 24-25 Desember 1921 di Semarang.
Cara memimpin Semaun dan Tan Malaka sangat berbeda satu sama lain. Semaun cenderung memimpin dengan hati-hati, sementara Tan Malaka dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan sulit diajak berkompromi. Meskipun begitu, di bawah kepemimpinan Tan Malaka, PKI mampu menjalin hubungan yang baik dengan Sarekat Islam.
Pengasingan di Eropa dan Asia
Pada tanggal 13 Februari 1922, Tan Malaka ditangkap oleh otoritas Belanda yang merasa terancam akan keberadaan PKI. Pada awalnya, otoritas Belanda mengirim Tan Malaka ke Kupang untuk diasingkan, tetapi, karena permintaan Tan Malaka yang ingin dipindahkan ke Belanda, akhirnya dia pun dikirim ke sana.
Tan Malaka tidak menghabiskan waktu yang lama di Belanda. Pada tanggal 20 Juli 1925, dia akhirnya memutuskan untuk pindah ke Manila, Filipina, karena iklimnya yang cukup mirip dengan Indonesia. Karena terbatasnya kuasa atas PKI selama di tempat pengasingan, pengaruh Tan Malaka terhadap PKI pun perlahan mulai melemah.
Kematian
Ketika Agresi Militer Belanda II terjadi pada tahun 1948, Tan Malaka melarikan diri dan mendirikan markas di Blimbing, sebuah desa di Jawa Timur yang dikelilingi oleh area persawahan. Di sana, dia bertemu dengan Mayor Sabarudin yang merupakan pemimpin Batalyon ke-38.
Sayangnya, Sabarudin diketahui berkonflik dengan pasukan bersenjata lainnya. Hingga pada 17 Februari 1949, para petinggi TNI di Jawa Timur sepakat untuk menangkap dan mengadili Sabarudin beserta rekan-rekannya sesuai dengan hukum militer.
Tan Malaka turut ditangkap pada tanggal 20 Februari 1949 dan sempat ditahan di Desa Patje. Tetapi hanya sehari setelahnya, Tan Malaka akhirnya ditembak mati di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri, atas perintah dari Letnan Dua Sukotjo. (Annisa Roffina Nurprili)***
(Tim PRMN 12/Pikiran-rakyat.com) (AA)
Artikel Terkait
Cerita WNI Yang Selamat Dari Tragedi Itaewon, Tragis Sangat Menyayat Hati
Sandiaga Uno Siap Maju Pilpres
Menanyakan Tentang Kematian Brigadir J , Mahareza Hutabarat : Banyak Orang Yang Blokir Nomor Saya
Moment Ferdy Sambo dkk Minta Maaf karena Terpaksa, Ingin Raih Simpati Keluarga Brigadir J? Simak Penjelasannya
Dugaan Berbohong Dan Beri Keterangan Palsu JPU Minta ART Ferdy Sambo Dijadikan Tersangka