Kontroversi dimulai ketika Ayatollah Khoeimini Imam besar Shiah dari Iran mengutuk novel tersebut sebagai tulisan yang penuh dengan penistaan terhadap simbol-simbol Islam.
Khoemini bahkan mengeluarkan fatwa halalnya darah Salman Rushdie hingga terjadi tragedi pembunuhan terhadap penerjemah Novel tersebut ke dalam bahasa Jepang pada 1991.
Beberapa toko yang menjual novel tersebut bahkan tercatat jadi target pengeboman, perusakan, hingga vandalisme.*** (Asahat Edi Rediko PS/Pikiran Rakyat)
Artikel Terkait
Sandiaga Uno Kagum Desa Perlang Merubah Bekas Tambang Jadi Desa Wisata dan Buka Lapangan Kerja
Garuda Muda Jadi Juara Piala AFF U-16 2022, Nabil Asyura Penentu Kemenangan
Gelar Sembako Murah, OK OCE Besutan Sandiaga Uno Kolaborasi Bersama KADIN Jakarta Pusat Agar Harga Terjangkau
Toyota Memanjakan Pengunjungnya di GIIAS 2022 dengan Booth Seluas 3000 M2 dengan Aktivitas Penuh Hadiah
Henry Lau Melamar Prilly Latuconsina di TikTok, Prilly Terkejut dan Spontan Menjadi Trending di Media Sosial