Tergerak dari Minimnya Akses Pendidikan
Ketulusan Nur Ali berakar dari pengalamannya sendiri. Ia pernah bekerja di berbagai tempat, termasuk Arab Saudi,
yang membuka wawasannya tentang pentingnya pendidikan, terutama pendidikan agama sejak usia dini.
“Dulu di Angkola Selatan belum ada madrasah,” ungkap Nur Ali, sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Agama, Rabu, 21 Januari 2026.
Ia mengisahkan, kondisi tersebut membuatnya dan sang suami memiliki tekad kuat. Jika suatu hari memiliki rezeki lebih, mereka berjanji akan membeli tanah dan menghibahkannya untuk kepentingan pendidikan.
“Dari situlah muncul niat saya dan suami. Kalau suatu hari punya rezeki membeli tanah, kami ingin menghibahkannya untuk madrasah,” tuturnya.
Janji tersebut akhirnya terwujud. Dengan perjuangan panjang, Nur Ali dan suaminya berhasil membeli sebidang tanah yang kini resmi dihibahkan kepada negara melalui Kementerian Agama.
Baca Juga: Relawan Bagikan Perjuangan Menuju Desa Terpencil Aceh Tengah, Jalur Terputus dan Medan Berat
Bukan untuk Keluarga, tapi untuk Umat
Nur Ali menegaskan bahwa lahan tersebut sejak awal tidak pernah diniatkan untuk kepentingan pribadi atau diwariskan kepada keluarga.
Ia ingin tanah itu benar-benar digunakan untuk kepentingan umat dan dikelola secara berkelanjutan.
“Saya ingin madrasah ini betul-betul menjadi milik umat dan negara. Kalau dikelola Kementerian Agama, insya Allah bisa bertahan dan terus melayani pendidikan anak-anak,” ujarnya.
Bagi Nur Ali, pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi akan sangat menentukan masa depan bangsa.
Ia berharap, madrasah yang dibangun kelak mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak baik, dan memiliki kepedulian sosial.
“Dengan pendidikan, anak-anak bangsa akan menjadi generasi yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Sesuai semboyan kita, ikhlas beramal,” tandasnya.
Baca Juga: Terdesak Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Mengungsi di Kuburan Tionghoa usai Minta Izin Ahli Waris
Simbol Harapan Pascabencana
Di tengah duka pascabanjir bandang, kisah Nur Ali menjadi simbol harapan baru bagi warga Tapanuli Selatan.