Ia kembali membandingkan dengan kasus Gus Dur yang secara eksplisit digambarkan sebagai orang buta dalam lawakan, namun tetap tidak mempersoalkannya.
“Gus Dur yang jelas-jelas dianalogikan orang buta saja tidak merasa terhina,” tandasnya.
Polemik Hukum dan Kebebasan Berekspresi
Kasus yang menjerat Pandji Pragiwaksono kembali memunculkan perdebatan publik soal batas kebebasan berekspresi, khususnya dalam seni komedi.
Di satu sisi, komedi sering dijadikan sarana kritik sosial dan refleksi realitas, namun di sisi lain tetap berhadapan dengan sensitivitas isu agama dan simbol kekuasaan.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mempelajari laporan yang masuk di sejumlah daerah.
Sementara itu, publik menanti sikap resmi dari aparat penegak hukum terkait kelanjutan proses hukum yang menjerat Pandji Pragiwaksono. *****