Hal ini merupakan bagian dari strategi penguatan pelayanan keagamaan yang tidak hanya normatif, tetapi juga empatik dan solutif.
“Pendekatan perempuan terhadap persoalan perempuan harus difasilitasi. Ini bagian dari pelayanan bermartabat,” ujar Menag.
Penutup: Pelayanan yang Terukur dan Bermakna
Rapat teknis ini menjadi langkah awal penyusunan strategi pelayanan haji 2025 yang menyeluruh dan responsif.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan penguatan aspek spiritual, diharapkan pelaksanaan haji tahun ini dapat mencerminkan kualitas tata kelola yang unggul dan membawa nama baik Indonesia di kancah internasional.***