Semua umat larut dalam meditasi, menyatu dalam niat yang sama: melepaskan beban, membuka hati, dan menyalakan cahaya kebijaksanaan.
Di langit, lampion terus naik, perlahan-lahan berubah menjadi titik-titik cahaya layaknya kunang-kunang yang menghiasi cakrawala malam.
Semakin tinggi ia melayang, semakin besar harapan yang menyertainya. Momentum ini menjadi pengingat mendalam bahwa dalam diam dan gelap, manusia tetap dapat mengirimkan terang kepada dunia.
Bhante melanjutkan, “Saat ini setelah batin kita suci dan terang, mari berdoa agar kita dan seluruh orang yang kita kasihi bebas dari penderitaan.”
Kalimat tersebut menegaskan bahwa kedamaian sejati dimulai dari dalam diri, lalu menyebar keluar—menjadi pancaran cahaya yang tidak terbatas ruang dan waktu.
Perayaan Waisak di Borobudur tahun ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga pernyataan kolektif tentang harapan umat manusia.
Dalam setiap nyala lampion, tersimpan pesan universal: dunia membutuhkan lebih banyak cahaya, lebih banyak kasih, dan lebih banyak doa.
Dari Borobudur, doa-doa itu mengalir ke langit malam, menjelma harapan bagi bumi yang lebih damai.***