Pada peristiwa itu, seorang pejuang Letnan Husein gugur bersama dua perwira remaja Akademi Militer, dan satu tentara pelajar.
Tak hanya itu, dalam catatan sejarah di monumen juga disebutkan terdapat delapan tentara muda Akademi Militer.
Baca Juga: Yang suka makanan seafood kepiting, yuk ingat lagi Fatwa MUI berikut ini
Delapan tentara muda dari Akademi Militer yang gugur itu kemudian disimbolkan dengan patung tentara menunggang garuda dengan sikap sedang berdoa.
Jumlah patung garuda dengan tentara yang sedang berdoa juga dibuat sebanyak delapan buah.
Sementara itu, di depan Monumen Plataran dibangun patung seorang pejuang yang menggambarkan Letnan Husein.
Pertempuran di Monumen Plataran tidak hanya terjadi pada tahun 1949, namun juga sejak tahun 1945 ketika Belanda terus mencoba berkuasa lagi di Indonesia.
Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, dibangunlah Monumen Plataran yang juga disebut Monumen Perjuangan Taruna Plataran.
Penyebutan Monumen Perjuangan Taruna Plataran karena saat itu terhitung banyak para taruna remaja dari Akademi Militer yang gugur, di samping puluhan warga lainnya.
Kini, Monumen Plataran di Desa Selomartani selalu menjadi tempat dilangsungkannya Selo Culture Festival, agar masyarakat senantiasa bisa mengenang jasa para pejuang. *(AS/K)