Jalur sempit dan tanah yang masih labil memaksa warga berjalan ekstra hati-hati demi keselamatan.
Demi mendapatkan bahan pokok, warga harus menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar lima jam dengan berjalan kaki.
“Perginya dua jam, pulangnya tiga jam karena bawa barang. Jadi lima jam pulang pergi. Itu hampir setiap hari kalau saya,” ungkapnya.
Beban belanjaan yang dibawa pulang membuat perjalanan semakin berat, namun warga tidak punya pilihan lain selain tetap melakukannya demi kebutuhan keluarga.
“Mudah-mudahan cepat selesai jalannya,” harapnya, merujuk pada perbaikan akses jalan yang sedang diupayakan.
Baca Juga: Banjir Susulan di Agam Sumatera Barat, Arus Deras Seret Batu dan Puing Kayu ke Permukiman
Bawa Hasil Panen untuk Dijual di Perjalanan
Tak hanya membeli logistik, sebagian warga juga memanfaatkan perjalanan tersebut untuk membawa hasil panen dari Takengon.
Buah-buahan seperti nanas dibawa dan ditawarkan kepada warga atau pedagang yang ditemui di sepanjang perjalanan.
Langkah ini dilakukan untuk menambah pemasukan sekaligus menutup biaya perjalanan dan belanja kebutuhan pokok.
Aktivitas jual beli sederhana di jalur darurat ini menjadi gambaran bagaimana warga berusaha bertahan di tengah keterbatasan akses dan tekanan ekonomi pascabencana.
Dampak Akses Jalan Putus terhadap Perekonomian
Putusnya akses jalan Takengon–Bener Meriah tidak hanya berdampak pada harga sembako, tetapi juga mengganggu rantai distribusi hasil pertanian, aktivitas perdagangan, dan mobilitas warga.
Pedagang kesulitan memasok barang, sementara petani sulit menjual hasil panen ke pasar yang lebih luas.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memperpanjang tekanan ekonomi jika perbaikan infrastruktur tidak segera rampung.
Warga berharap pemulihan akses jalan menjadi prioritas utama agar roda perekonomian bisa kembali berputar normal.
Baca Juga: Akses Terputus, Relawan dan Warga Gotong Royong Seberangkan Logistik ke Desa Pasir Gayo Lues
Artikel Terkait
Akses Terputus, Relawan dan Warga Gotong Royong Seberangkan Logistik ke Desa Pasir Gayo Lues
Banjir Susulan di Agam Sumatera Barat, Arus Deras Seret Batu dan Puing Kayu ke Permukiman
Malam Penuh Teror di Aceh Tamiang, Warga Selamatkan Diri ke Atap Saat Banjir Melanda
Cegah Penyakit Menular Pascabanjir, Mantan Ketum PB IDI Dorong Layanan Medis Dekat Pengungsi