Meski demikian, warga mengaku hingga kini belum merasakan dampak kesehatan serius akibat penggunaan air tersebut.
Tidak ada keluhan seperti sakit perut, muntah, atau diare yang mereka rasakan, meski air yang dikonsumsi jelas tidak memenuhi standar air bersih.
“Enggak ada (sakit perut), pertolongan Tuhan tentunya,” ucap warga tersebut, mencerminkan sikap pasrah sekaligus keyakinan spiritual di tengah keterbatasan.
Situasi ini menunjukkan betapa gentingnya kondisi yang dihadapi masyarakat terdampak banjir di Aceh Tamiang.
Baca Juga: Berbekal Senter dan Alat Seadanya, Warga Pematang Durian Bersihkan Jembatan di Tengah Gelap
Kebutuhan dasar seperti air bersih yang seharusnya menjadi prioritas utama, justru menjadi barang langka yang sulit diakses oleh warga.
Penggunaan air dari bekas pabrik kelapa sawit dalam jangka panjang tentu berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu munculnya penyakit berbasis air, seperti diare, infeksi kulit, hingga gangguan pencernaan.
Kisah pilu dari kawasan bekas pabrik ini menjadi alarm keras bagi pihak terkait mengenai urgensi pendistribusian air bersih dan perbaikan infrastruktur pascabanjir.
Keberanian warga mengonsumsi air yang telah menghijau bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan bukti nyata bahwa kebutuhan hidup dasar telah memaksa mereka mengambil risiko besar demi bertahan.
Di tengah bencana dan keterbatasan, harapan warga Aceh Tamiang kini tertuju pada uluran tangan pemerintah dan para relawan agar akses air bersih segera tersedia, sehingga mereka tidak lagi harus mempertaruhkan kesehatan demi sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. *****
Baca Juga: Banjir Bandang Aceh Tamiang Sisakan Kayu Super Besar, Warga Sebut Tak Pernah Terlihat Sebelumnya
Artikel Terkait
Banjir Bandang Aceh Tamiang Sisakan Kayu Super Besar, Warga Sebut Tak Pernah Terlihat Sebelumnya
Pascabanjir Bandang, Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Gunakan Air Banjir untuk Kebutuhan Harian
Berbekal Senter dan Alat Seadanya, Warga Pematang Durian Bersihkan Jembatan di Tengah Gelap
Setelah Terputus Banjir Bandang, Jalur Tenge Besi Kembali Dibuka untuk Distribusi Bantuan ke Takengon