Darurat Air Bersih, Warga Aceh Tamiang Bertahan 15 Hari Gunakan Air Hijau Bekas Pabrik Sawit

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Rabu, 24 Desember 2025 | 14:50 WIB
Warga Aceh Tamiang terpaksa konsumsi air hijau di bekas pabrik sawit selama 15 hari karena krisis air bersih - WartaPesona.com (Kabar Megapolitan)
Warga Aceh Tamiang terpaksa konsumsi air hijau di bekas pabrik sawit selama 15 hari karena krisis air bersih - WartaPesona.com (Kabar Megapolitan)

WartaPesona.com – Krisis air bersih pascabanjir di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang kian menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.

Di tengah keterbatasan bantuan dan lambannya pemulihan infrastruktur, sebagian warga terpaksa bertahan hidup dengan memanfaatkan genangan air di area bekas pabrik kelapa sawit, meski kualitas air tersebut jauh dari kata layak konsumsi.

Air yang mereka gunakan bahkan telah berubah warna menjadi hijau pekat, menandakan kondisi yang telah lama tergenang dan berpotensi tercemar.

Namun, bagi warga terdampak, tidak ada pilihan lain selain menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga minum.

Potret pilu ini terungkap melalui sebuah unggahan video di akun Instagram @Ladislao_9 pada Selasa, 23 Desember 2025.

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah warga mengambil air dari sebuah kilang atau tangki besar yang sudah lama terbengkalai di kawasan bekas pabrik kelapa sawit.

Kilang tersebut kini menjadi tumpuan hidup bagi warga sekitar, menyusul terputusnya akses air bersih pascabanjir.

Infrastruktur air yang rusak serta terbatasnya pasokan bantuan membuat warga terpaksa mengabaikan standar kesehatan demi bertahan hidup.

“Sudah hampir 15 hari kami konsumsi air ini,” ujar salah seorang warga dalam video tersebut, menggambarkan betapa panjangnya waktu yang harus mereka lalui dalam kondisi krisis sanitasi.

Baca Juga: Setelah Terputus Banjir Bandang, Jalur Tenge Besi Kembali Dibuka untuk Distribusi Bantuan ke Takengon

Secara kasat mata, kualitas air yang mereka gunakan sangat meragukan. Permukaan air tampak tertutup lapisan hijau, diduga akibat lumut atau endapan yang berkembang karena air dibiarkan menggenang dalam waktu lama.

Kondisi ini semakin menimbulkan kekhawatiran akan potensi bakteri dan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya.

“Bisa tengok airnya, memang hijau di atas, tapi kita tidak tahu di bawah seperti apa,” lanjut warga tersebut dengan nada pasrah, menyadari risiko kesehatan yang mengintai setiap kali air itu digunakan.

Baca Juga: Pascabanjir Bandang, Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Gunakan Air Banjir untuk Kebutuhan Harian

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X