“Biasanya anak-anak langsung minta untuk dirinya sendiri. Tapi ini beda. Dia memastikan dulu ibunya kebagian. Kami langsung terharu,” ujar salah satu relawan.
Bagi sang bocah, selimut bukan sekadar bantuan logistik, melainkan cara sederhana untuk melindungi orang yang paling ia sayangi.
Meski dirinya juga kedinginan dan lelah, ia memilih berbagi kehangatan dengan sang ibu, yang ia panggil dengan penuh kasih : mamak.
Peristiwa itu pun menjadi gambaran kuat tentang ikatan keluarga yang tetap terjaga di tengah situasi krisis.
Kepolosan anak-anak sering kali memunculkan nilai kemanusiaan yang paling jujur, tanpa dibuat-buat, tanpa pamrih.
Dari seorang bocah kecil di pengungsian banjir Aceh, terselip pelajaran besar tentang empati, kepedulian, dan cinta kepada orang tua.
Para relawan akhirnya menyerahkan dua selimut sekaligus kepada bocah tersebut. Wajahnya pun tampak sedikit tersenyum, seolah lega karena permintaannya dikabulkan.
Baca Juga: Curhat Pengungsi Pria Usai Banjir Sumut : ‘Baju Wanita Melimpah, Kami yang Laki-Laki Bingung’
Ia kemudian berlari kecil kembali ke arah ibunya, membawa selimut itu dengan erat.
Di tengah bencana banjir yang meninggalkan luka dan kehilangan, kisah kecil ini menjadi penguat bagi banyak pihak.
Bahwa di balik data kerusakan, jumlah korban, dan antrean bantuan, ada cerita-cerita kemanusiaan yang menghangatkan hati tentang seorang anak yang mengajarkan arti kasih sayang di saat dunia sedang tak baik-baik saja. *****
Artikel Terkait
Cerita Pengungsi Pria di Aceh : Minim Pakaian Pria, Mereka Pakai Daster demi Bertahan di Udara Dingin
Curhat Pengungsi Pria Usai Banjir Sumut : ‘Baju Wanita Melimpah, Kami yang Laki-Laki Bingung’
Tinjau Langsung Aceh, Prabowo Tegaskan Komitmen Percepat Pemulihan Banjir Bandang : Warga Tidak Sendiri
Banjir Aceh Tamiang Sisakan Duka, Pengungsi Pilih Minta Mukena Demi Tetap Beribadah