Meski terus dipromosikan sebagai kebijakan unggulan pemerintah Prabowo hingga dibawa ke forum G20, terdapat berbagai temuan di lapangan menunjukkan bahwa implementasi MBG menghadapi sejumlah tantangan serius :
-
Kualitas makanan tidak merata antarwilayah.
-
Pengawasan menu dan standar gizi yang masih belum optimal.
-
Kelangkaan ahli gizi yang berdampak pada operasional dapur.
-
Distribusi bahan pangan lokal yang belum lancar.
-
Koordinasi SPPG, pemerintah daerah, dan sekolah belum berjalan konsisten.
Kondisi tersebut mendorong berbagai elemen masyarakat, akademisi, serta pakar gizi untuk mendesak pemerintah melakukan evaluasi teknis sebelum memperluas cakupan program.
Gibran Dorong Penguatan Sistem, Publik Tagih Pembuktian
Sementara itu, melalui berbagai kesempatan, Gibran selalu menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pembenahan, baik dari sisi rantai pasok, kualitas distribusi, maupun kapasitas sumber daya manusia.
Namun, publik menilai, promosi besar-besaran di negara lain harus diimbangi dengan peningkatan kualitas di dalam negeri agar MBG tidak hanya menjadi kebijakan simbolis, melainkan benar-benar berdampak pada pelajar, ibu hamil, dan masyarakat luas.
Baca Juga: Efek Dahsyat MBG Prabowo: 1,4 Miliar Porsi Tersaji, 36,7 Juta Penerima Manfaat!
Dengan semakin banyaknya sorotan, pemerintah kini berada dalam tekanan untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai visi awalnya: mendukung ketahanan pangan, memperbaiki gizi nasional, dan menggerakkan ekonomi di tingkat akar rumput. *****
Artikel Terkait
Efek Dahsyat MBG Prabowo: 1,4 Miliar Porsi Tersaji, 36,7 Juta Penerima Manfaat!
Istana Tegaskan Tim Koordinasi MBG Bukan Pengganti BGN, tapi Penguat Implementasi Program Makan Bergizi Gratis
Gibran Tampil di Forum Internasional Johannesburg, Sampaikan Komitmen RI pada Konektivitas dan Kemitraan Global
Gibran Aktif di KTT G20 Johannesburg : Bahas Kerja Sama Digital hingga Stabilitas Kawasan