Gedung Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya Jakarta pernah jadi toko bunga, ceritanya begini

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Kamis, 10 Oktober 2024 | 09:43 WIB
Gedung Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya Jakarta Pusat.  (kemdikbud.go.id)
Gedung Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya Jakarta Pusat. (kemdikbud.go.id)

WartaPesona.com - Gedung Museum Sumpah Pemuda di kawasan Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, dalam sejarahnya pernah menjadi toko bunga.

Tak hanya jadi toko bunga, gedung Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya Jakarta Pusat ini juga pernah menjadi hotel bernama Hersia.

Setelah Indonesia merdeka, gedung Museum Sumpah Pemuda di Kramat Raya Jakarta Pusat ini juga pernah menjadi Kantor Inspektorat Bea dan Cukai.

Pada awalnya, gedung Museum Sumpah Pemuda merupakan rumah tinggal milik Sie Kong Lian.

Baca Juga: Presiden Jokowi ingatkan potensi banjir produk impor murah, China overproduksi

Sejak tahun 1908, gedung itu disewa oleh para pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechts School) dari berbagai daerah di Indonesia.

Para pelajar mahasiswa yang pernah tinggal di gedung itu adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Soerjadi, Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, dan banyak lagi.

Pada tahun 1927, mulailah gedung tersebut menjadi markas berbagai organisasi pergerakan pemuda dari seluruh Tanah Air yang berbeda suku, agama, budaya, dan bahasa.

Karena menjadi markas berbagai organisasi, gedung itu kemudian diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw. Artinya, gedung pertemuan.

Baca Juga: Salak Bali, terkenal manis dan masir, ditanam sistem agroforestri, diakui FAO sebagai warisan pertanian penting dunia

Setelah tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, gedung tersebut kemudian dikenal sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Namun dalam perjalanannya kemudian, sejak tahun 1934 gedung bersejarah itu mulai ditinggalkan oleh para mahasiswa karena sudah lulus sekolah.

Hingga tahun 1937, gedung tersebut disewa oleh seorang etnis Tionghoa bernama Pang Tjem Jam sebagai rumah tinggal.

Lalu, pada tahun 1937-1951 gedung itu kembali beralih penghuni dan disewa Loh Jing Tjoe. Pada tahun inilah gedung bersejarah itu digunakan sebagai toko bunga hingga tahun 1948.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA

Sumber: kemdikbud.go.id, Museumsumpahpemuda

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X