Sejarah Tanah Abang, Dari Permukiman Tepi Sungai hingga Pusat Perdagangan Tersohor

photo author
Fathan Riyandi, Warta Pesona
- Sabtu, 31 Mei 2025 | 21:26 WIB
Tanah abang (Perumda Jaya)
Tanah abang (Perumda Jaya)



WartaPesona.com - Tanah Abang merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Kota Jakarta. Terletak di Jakarta Pusat, Tanah Abang kini dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara.

Namun, jauh sebelum itu, kawasan ini sudah memainkan peran penting dalam dinamika sosial dan ekonomi Batavia (nama lama Jakarta) sejak abad ke-18.

Asal Usul Nama Tanah Abang
Nama "Tanah Abang" berasal dari dua kata, yakni "tanah" dan "abang" yang berarti "merah" dalam bahasa Jawa dan Betawi.

Nama ini diberikan karena tanah di kawasan tersebut dahulu berwarna kemerahan, yang merupakan ciri khas tanah laterit atau tanah liat yang kaya akan zat besi. Warna tanah ini terlihat mencolok, terutama saat musim hujan.

Baca Juga: Meracik Cita Rasa Nusantara: Panduan Lengkap Membuat Rendang

Pada masa penjajahan Belanda, sekitar abad ke-18, Tanah Abang sudah menjadi jalur penting yang menghubungkan pusat kota Batavia dengan wilayah pedalaman.

Salah satu tokoh penting yang terkait dengan sejarah Tanah Abang adalah Justinus Vinck, seorang tuan tanah Belanda yang membuka pasar Tanah Abang pertama kali pada tahun 1735.

Pasar ini dibuka setiap hari Sabtu dan menjadi tempat para petani, pedagang lokal, hingga orang Tionghoa berdagang hasil bumi, tekstil, dan barang kebutuhan pokok.

Letaknya yang strategis, tidak jauh dari kanal dan jalur perahu, membuat pasar ini cepat berkembang. Pada masa itu, pasar Tanah Abang menjadi alternatif dari Pasar Senen yang juga sudah berdiri lebih dulu.

Baca Juga: Mengurai Tantangan, Merangkai Solusi: Capaian Strategis Penyelenggaraan Haji 2025 di Bawah Kepemimpinan Menag Nasaruddin Umar

Pusat Perdagangan Tekstil
Seiring waktu, Tanah Abang berkembang menjadi sentra perdagangan tekstil. Setelah Indonesia merdeka, terutama mulai tahun 1970-an, aktivitas perdagangan di pasar Tanah Abang meningkat pesat.

Para pedagang dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara mulai berdatangan untuk membeli kain, pakaian, dan berbagai produk mode.

Pasar Tanah Abang terus mengalami modernisasi. Kini, kompleks pasar ini mencakup beberapa blok besar seperti Blok A, Blok B, Blok F, dan Blok G, yang terdiri dari ribuan kios dan toko.

Blok A, yang diresmikan pada tahun 2005, menjadi salah satu pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, menarik pengunjung dari Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Tanah Abang juga menjadi kawasan yang sangat multikultural.

Selain etnis Betawi sebagai penduduk asli, banyak etnis lain seperti Tionghoa, Arab, Padang, dan Jawa menetap dan berdagang di sana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fathan Riyandi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X