gaya-hidup

Hikmah : Bersihkan Hati Agar Hidup Nyaman dan Selamat

Kamis, 2 Oktober 2025 | 12:38 WIB
KH. Abdul Hamid Husain, Lc., MA. saat di Masjid Bairrahim (ist)

Baca Juga: Hikmah Jumat : Resepsi Pernikahan yang Menambah Dosa

- Sejak itulah, ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk beribadah kepada Allaah SWT.

- Kesufian: Rabiah hidup secara zuhud atau asketis, tidak menikah, dan menolak kehidupan cinta Duniawi. Ia tinggal di Basrah, dikenal sebagai seorang Sufi yang menekankan "Mahabbah Ilahiyyah", cinta kepada Allaah.

- Pengaruh: Rabiah menjadi guru dan inspirasi bagi banyak tokoh Sufi, seperti Hasan Al-Bashri dll.

3. Pemikiran Utama Rabiah adalah Cinta Ilahi (Mahabbah):
Rabiah mengajarkan bahwa ibadah sejati dilakukan karena CINTA atau MAHABBAH kepada Allaah, bukan karena TAKUT Neraka atau MENGHARAP Surga.

Hidup Zuhud, Ia menolak kesenangan Duniawi, tetapi bukan berarti membenci Dunia; baginya Dunia hanyalah jalan, bukan tujuan.
Kebersihan hati, Penyerahan total kepada Allaah SWT dengan hati yang tulus dan bersih.

4. Warisan Indah Yang Ditinggalkan:
Rabiah dianggap sebagai Perempuan Sufi yang paling terkenal dalam sejarah Islam, bahkan disebut pionir ajaran MAHABBAH "Cinta Ilahi" dalam sufisme.
Kehidupannya sering menjadi teladan tentang keteguhan Iman, kesederhanaan, dan keikhlasan.

Kisah-kisahnya banyak tercatat dalam literatur tasawuf klasik, seperti karya Fariduddin Attaar dalam Tazkiratul Awliyaa (Kitab Orang-orang Suci).

Baca Juga: Hikmah : Rukun Tetangga

Hikmah yang terkandung

Rabiah Al-Adawiyyah adalah Sufi Perempuan besar dari Basrah yang hidup pada abad ke-8. Ia terkenal karena menekankan ajaran Cinta murni kepada Allaah, menolak ibadah berbasis ketakutan Neraka atau iming-iming Surga.

Kehidupan zuhudnya dan ucapan-ucapan Hikmah yang ditinggalkannya menjadikannya tokoh sentral dalam sejarah tasawuf Islam.

Inilah 10 Ajaran yang penuh Hikmah Kebijaksanaan Rabiah Al-Adawiyyah yang sangat terkenal, penuh makna sufistik untuk kita jadikan renungan dan diamalkan:

1. Tentang Cinta Pada Allaah Yang Ikhlas dan Murni:

“Yaa Allaah, jika aku menyembah-Mu karena takut Neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Jika aku menyembah-Mu karena mengharap SurgaMu. haramkanlah Surga bagiku.
Tetapi jika aku menyembah-Mu hanya karena demi menggapai Cinta-Mu, janganlah Engkau palingkan aku dari keindahan CintaMu.”

Baca Juga: Merajut Solidaritas, Mengukir Senyum: Menjelajahi Manfaat dan Hikmah Zakat Fitrah

2. Tentang Ibadah Sejati:

“Aku bukan menyembah-Mu karena takut kepada-Mu, dan bukan pula karena mengharap balasan-Mu. Aku menyembah-Mu semata-mata karena Ikhlas dan Cinta kepada-Mu.”

Halaman:

Tags

Terkini