Onad Ungkap Kondisi Psikologis usai Rehabilitasi, Sebut Alami Gejala Sindrom Peter Pan

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 2 Februari 2026 | 14:30 WIB
Setelah 3 Bulan Jalani Rehabilitasi Narkoba, Onad Ungkap Dirinya Mengidap Gejala Sindrom Peter Pan - WartaPesona.com (Tribun Lampung - Tribunnews.com)
Setelah 3 Bulan Jalani Rehabilitasi Narkoba, Onad Ungkap Dirinya Mengidap Gejala Sindrom Peter Pan - WartaPesona.com (Tribun Lampung - Tribunnews.com)

“Jika perilaku kekanak-kanakan terus dibiarkan, pada akhirnya anak akan frustrasi ketika dituntut mandiri sebelum ia siap,” jelas Kiley.

Situasi ini dapat membuat individu tumbuh dengan ketakutan akan tanggung jawab, kegagalan, dan komitmen.

Lingkungan Keluarga yang Penuh Konflik

Lebih jauh, Kiley juga menemukan bahwa anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan keluarga dengan konflik berkepanjangan, rasa dendam, dan saling menyalahkan, memiliki risiko lebih besar mengalami sindrom Peter Pan.

Dalam keluarga semacam ini, orang tua seringkali mempertahankan hubungan yang tidak sehat demi citra sosial.

Akibatnya, dinamika emosional di dalam rumah menjadi tidak stabil.

“Seorang ibu akan melakukan kompensasi berlebihan dan menggantungkan dukungan emosional pada putranya,” ujar Kiley.

Sementara itu, ayah kerap menjadikan anak sebagai penengah konflik rumah tangga, yang pada akhirnya membebani kondisi psikologis anak.

Pola ini menciptakan individu yang terus berusaha menyenangkan orang lain, namun gagal membangun identitas dan kedewasaan emosionalnya sendiri.

Baca Juga: Disorot DPR, Kapolresta Sleman Dikritik soal Pemahaman Pasal KUHP dalam Kasus Lawan Penjambret

Refleksi Onad dan Jalan Pemulihan

Pengakuan Onad mengenai sindrom Peter Pan membuka diskusi publik tentang kesehatan mental pria dewasa, khususnya di tengah tekanan sosial dan ekspektasi maskulinitas.

Kisahnya menunjukkan bahwa kecanduan narkoba tidak selalu berdiri sendiri, melainkan kerap berkaitan dengan luka psikologis yang lebih dalam.

Kini, usai menyelesaikan rehabilitasi, Onad berusaha menata ulang hidupnya dengan kesadaran baru terhadap kondisi mental yang ia alami.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas agar lebih peduli terhadap kesehatan mental dan pentingnya proses pendewasaan secara emosional. *****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mall of Indonesia Hadirkan Ultraman

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:13 WIB
X