Namun, ia dan rekan-rekannya tetap berusaha bertahan demi tanggung jawab sebagai pendidik.
“Namun di balik pemahaman itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kami para guru tetap merasakan pahitnya perjuangan,” ungkapnya.
“Dengan penghasilan yang sangat minim, kami harus bertahan, mengatur ulang kebutuhan hidup, dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik tanpa mengurangi kualitas pengabdian,” sambung Fildzah.
Ia menegaskan bahwa unggahan yang ia buat bukan untuk meminta belas kasihan, apalagi menyudutkan pihak tertentu.
Menurutnya, curhatan tersebut semata-mata ingin menunjukkan realita yang masih dialami sebagian guru di Indonesia.
“Saya bangga menjadi guru. Kami bangga menjadi guru,” tuturnya.
“Dan selama masih diberi kekuatan, kami akan tetap mengabdi, meski dalam keterbatasan,” pungkas Fildzah.
Curhatan Fildzah pun menjadi cermin kondisi kesejahteraan guru PPPK paruh waktu di sejumlah daerah, sekaligus pengingat akan pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap nasib para pendidik yang berada di garda terdepan dunia pendidikan. *****