berita

Forum ISI Kupas Strategi Global AS di Era Trump dan Implikasinya bagi Keamanan Indo-Pasifik

Jumat, 30 Januari 2026 | 20:56 WIB
ISI Bedah Konsep Strategis AS di Era Trump dan Dampaknya terhadap Keamanan Indo-Pasifik - WartaPesona.com (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia)

WartaPesona.com – Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), lembaga kajian pertahanan dan keamanan berbasis di Jakarta, menggelar diskusi daring bertajuk

“Spheres of Influence and Strategic Retrenchment : How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific”.

Diskusi ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta praktisi pertahanan untuk mengkaji secara komprehensif perubahan orientasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump pada periode keduanya, serta implikasinya terhadap stabilitas keamanan kawasan Indo-Pasifik.

Forum ini menyoroti bagaimana kecenderungan strategic retrenchment, yakni pengurangan keterlibatan langsung AS di berbagai kawasan berpadu dengan pendekatan transaksional terhadap negara-negara sekutu.

Pola tersebut dinilai mengubah dinamika persaingan kekuatan besar, terutama antara Amerika Serikat dan China, yang semakin intens di Indo-Pasifik.

Selain itu, diskusi juga membedah penguatan konsep offshore balancing sebagai pendekatan strategis Washington dalam menjaga kepentingannya tanpa harus terlibat secara langsung dalam konflik kawasan, sembari mendorong sekutu memikul beban keamanan yang lebih besar.

Baca Juga: Diduga Keracunan Menu MBG, Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Alami Mual hingga Diare

Indo-Pasifik Tetap Kawasan Prioritas AS

Dosen Defence Studies di King’s College London, Dr. Zeno Leoni, menegaskan bahwa meskipun pemerintahan Trump menunjukkan kecenderungan menarik diri dari berbagai komitmen global, kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi pusat gravitasi strategis dan ekonomi dunia.

Menurut Leoni, Amerika Serikat tidak mungkin sepenuhnya melepaskan kepentingannya di Indo-Pasifik mengingat kawasan ini menjadi jalur utama perdagangan global, pusat pertumbuhan ekonomi, serta arena utama persaingan geopolitik abad ke-21.

“Sekitar 60 persen aset angkatan laut Amerika Serikat saat ini ditempatkan di Indo-Pasifik. Ini menunjukkan bahwa secara militer dan strategis, kawasan ini tetap menjadi prioritas utama,” ujar Leoni.

Ia menambahkan, perhatian Washington terhadap isu-isu sensitif seperti Laut China Selatan dan Taiwan tetap tinggi.

Namun, gaya diplomasi Presiden Trump yang agresif, sering kali tidak terduga, dan cenderung transaksional terhadap sekutu justru berpotensi melemahkan kepercayaan terhadap tatanan internasional berbasis aturan (rules-based international order).

“Jika Amerika Serikat terus dipersepsikan sebagai aktor yang inkonsisten, ketidakpastian bisa menjadi kondisi permanen dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik,” kata Leoni.

Baca Juga: Polda DIY Ambil Langkah Tegas, Kapolresta Sleman Dinonaktifkan usai Penetapan Tersangka Suami Lawan Penjambret

Halaman:

Tags

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB