“Kayak mana ya, karena kan orang kadang pulang sempat bersih-bersih rumah kan. Kami kan rasa iba sama saudara kalau nggak ada yang masak,” ucapnya.
Dengan penuh keikhlasan, Aisyah memilih berbagi tenaga meski dirinya sendiri masih berada dalam kondisi serba kekurangan.
“Ikhlaskan, biar Allah yang balas. Kalau kita banyak ujian kan disayang Allah,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para relawan serta pihak-pihak yang telah membantu meringankan beban warga terdampak.
“Alhamdulillah kami sangat senang, terima kasih bantu dapur kami, mengangkat beban kami,” ucap Aisyah.
Baca Juga: Dua Bulan Setelah Banjir, Debu Bekas Lumpur Masih Menyulitkan Aktivitas Warga Aceh Tamiang
Pidie Jaya Masih Berstatus Tanggap Darurat
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya hingga saat ini masih menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku sampai 28 Januari 2026.
Keputusan tersebut diambil untuk memastikan penanganan korban terdampak berjalan optimal, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur yang rusak.
Banjir bandang dan longsor di wilayah tersebut menjadi pengingat akan rapuhnya kehidupan masyarakat di tengah ancaman bencana alam.
Namun, kisah Aisyah menunjukkan bahwa di tengah keterpurukan, masih tumbuh rasa empati, gotong royong, dan kepedulian antarwarga.
Di tengah lumpur dan kehilangan, harapan tetap menyala dari dapur umum sederhana, dari tangan-tangan warga yang saling membantu, dan dari ketulusan hati mereka yang memilih berbagi meski dirinya sendiri sedang diuji. *****