“Kami berharap pemerintah segera membuka akses warga Kute Reje supaya mudah mengambil hasil pertanian,” lanjutnya.
Menurut warga, kualitas durian Jamat yang dihasilkan sangat baik dan memiliki nilai jual tinggi.
Namun tanpa akses jalan yang memadai, potensi tersebut tak bisa dimanfaatkan secara maksimal.
“Ini bukti durian mereka berkualitas tinggi dan sangat membantu pemulihan pascabencana,” tambahnya.
Baca Juga: Melawan Arus Banjir Aceh, Seorang Ibu Nyaris Rela Berkorban agar Anaknya Selamat
Dijual hingga Digratiskan untuk Relawan
Tak hanya dijual ke Takengon, durian Jamat milik warga Desa Kute Reje juga dijual langsung kepada para relawan yang datang membawa bantuan ke desa mereka.
Bahkan, sebagian warga memilih menggratiskan durian sebagai bentuk rasa terima kasih atas kepedulian para relawan.
Bagi warga, kehadiran relawan bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan harapan dan semangat di tengah kondisi sulit pascabencana.
Upaya membeli hasil panen warga, termasuk durian, dinilai sebagai salah satu langkah konkret membantu pemulihan ekonomi masyarakat terdampak banjir bandang.
Baca Juga: Bayang-bayang Erupsi Semeru Picu Keresahan Warga, Muncul Usulan Ekstrem demi Rasa Aman
Masih 24 Desa Terisolir di Aceh Tengah
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, hingga pertengahan Januari 2026 masih terdapat 24 desa yang terisolir akibat putusnya akses jalan pascabanjir dan longsor.
Desa-desa tersebut tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.
Khusus di Kecamatan Linge, desa yang masih terisolir meliputi Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang, dengan total penduduk terdampak mencapai 2.362 jiwa.
Kondisi ini membuat warga berharap adanya percepatan perbaikan infrastruktur, terutama jalan dan jembatan, agar aktivitas ekonomi, pendidikan, serta distribusi bantuan dapat kembali berjalan normal.
Bagi warga Desa Kute Reje, jalan yang aman bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga menjadi kunci agar hasil bumi mereka tak lagi harus dipikul melintasi sungai dan tebing demi bertahan hidup pascabencana. *****