Genggaman itu menjadi satu-satunya harapan untuk tetap bertahan hidup.
Namun, seiring waktu, kekuatan fisiknya mulai melemah.
“Waktu itu tangan saya sudah gemetar,” kenangnya.
Ia bahkan masih mengingat jelas perkataan sang anak yang membuat hatinya hancur sekaligus menguat.
“Anak saya bilang, ‘Mama kalau tidak sanggup lepaskan saja,’ begitu,” tuturnya.
Mendengar itu, sang ibu tak kuasa menahan tangis. Dalam kondisi terdesak, ia sempat pasrah dan menyampaikan pesan terakhir kepada anak-anaknya.
“Saya menangis dan saya bilang, ‘Yang penting kalian hidup, biarkan saja Mama,’ tidak apa-apa,” ungkapnya lirih.
Takdir Berpihak, Ibu dan Anak Selamat
Meski sempat berada di titik paling kritis, takdir berkata lain. Sang ibu dan anak-anaknya akhirnya berhasil selamat dari terjangan banjir bandang tersebut.
Kini, mereka masih berjuang menata kembali kehidupan di tengah keterbatasan.
Naufal mengaku tak kuasa membayangkan berada di posisi para korban, khususnya ibu tersebut.
“Tidak terbayang ada di momen sekritis itu, bertahan di rumah saat banjir, tidak makan dan minum seharian dengan badan terendam air,” ucap Naufal.
Ia pun menyampaikan doa dan dukungan bagi seluruh korban banjir bandang di Pidie Jaya, Aceh.
“Semoga Allah mudahkan pemulihannya,” tandasnya.
Kisah sang ibu menjadi simbol keteguhan seorang orang tua yang rela mengorbankan segalanya demi keselamatan anak-anaknya.